Manusia Bisa Terima Transplantasi Organ Berpenyakit, Ini Buktinya - Kompas.com

Manusia Bisa Terima Transplantasi Organ Berpenyakit, Ini Buktinya

Kompas.com - 03/11/2017, 17:06 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Pernahkah Anda membayangkan melakukan transplantasi organ, tetapi dengan organ lain yang terinfeksi penyakit? Kemungkinan besar Anda tidak akan mau melakukannya.

Namun, inilah yang terjadi pada Tom Giangiulio jr. Pria 58 tahun dari Amerika Serikat ini mendapatkan tawaran tersebut setelah 2 tahun menunggu jantung yang cocok untuk transplantasi.

"Anda bangun setiap pagi dan bertanya-tanya apakah akan bisa pergi tidur pada malam harinya," kata Giangiulio dikutip dari Time, Minggu (26/10/2017).

"Ini seperti melihat ke dalam terowongan, dan tidak ada cahaya di ujungnya," sambung pria yang tinggal di Waterford, New Jersey itu.

Baca juga: Mengenal Alasan di Balik Transplantasi Ginjal Selena Gomez

Dia mendapatkan tawaran tersebut pada saat melakukan temu janji dengan dokter di Penn Medicine, Filadelfia. Dalam tawaran tersebut, dia bisa mendapatkan jantung baru lebih cepat, tetapi dengan syarat akan terinfeksi virus hepatitis C.

Di Amerika Serikat sendiri, sekitar 1.000 donor jantung terbuang percuma karena infeksi penyakit ini. Hepatitis C menyebar melalui aliran darah ke organ tubuh.

Untungnya, sekarang penyakit ini telah bisa disembuhkan. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir telah ditemukan obat baru yang sangat efektif untuk hepatitis C dan terbukti bisa membersihkan penyakit ini hingga 98 persen.

"Sekarang hepatitis C dapat disembuhkan, kita dapat menggunakan organ ini dan tidak khawatir tentang peningkatan angka kematian. Ini menawarkan kesempatan untuk memperluas kolam donor," kata Dr Rhondalyn McLean, seorang direktur medis program transplantasi jantung di sebuah rumah sakit.

Di Amerika Serikat, kasus hepatitis C meningkat sejak tahun 2010 hingga 2015. Para ahli mengaitkan hal ini dengan penggunaan narkoba suntik.

Baca juga: Selain Bakteri, Transplantasi Tinja Juga Bisa Tularkan Karakter Donor

"Banyak anak muda yang sehat, tetapi meninggal akibat overdosis narkoba. Mereka adalah donor-donor yang berpotensi," kata Dr David Goldberg, seorang asisten profesor kedokteran dan epidemiologi di Perelman School of Medicine di University Pennsylvania.

Jantung juga bukan satu-satunya organ yang dieksplorasi. Pada 2016, Penn Medicine memulai uji coba klinis untuk menguji keamanan dan efektivitas memberikan ginjal donor yang terinfeksi hepatitis C.

Percobaan ini sebagian didanai oleh perusahaan obat Merck yang memproduksi obat hepatitis C bernama Zepatier. Setelah operasi, para penerima donor menunggu di rumah sakit selama beberapa hari sampai virus tersebut muncul dalam darah mereka. Kemudian, mereka akan mulai mengkonsumsi Zepatier selama 12 minggu.

Kurang dari 30 orang telah menerima transplantasi ini, tetapi setiap orang yang telah menyelesaikan sebagian besar obat telah dinyatakan bebas virus Heaptitis C.

Para dokter berharap untuk mendapatkan hasil yang sama dengan transplantasi jantung yang terinfeksi, tetapi tidak ada jaminan.

Baca juga: Mengapa Prosedur Transplantasi Rahim Selalu Gagal?

Setelah berdiskusi dengan istri dan dokternya, Giangiulio menjadi orang pertama yang mendapatkan transplantasi jantung ber-hepatitis C.

Setelah menunggu sekitar 3 bulan, dia menemukan donor yang cocok dan menerima donor pada 18 Juni 2017. 

Meski memulihkan diri dari operasi jantung memakan waktu yang cukup lama, tetapi saat ini Giangiulio bisa bernapas lebih mudah dan dapat melakukan aktivitas fisik.

"Tidak ada rasa takut membuat keputusan ini. Terobosan ini akan menyelamatkan hidup saya, dan lebih banyak nyawa setiap tahun," ujar pria 58 tahun itu.

Pada 2016, ada lebih dari 4.000 orang yang menunggu untuk mendapatkan transplantasi jantung. Dokter dari Penn Medicine berkata bahwa menggunakan organ dengan hepatitis C dapat membantu menutup celah tersebut.


EditorShierine Wangsa Wibawa
SumberTime

Close Ads X