Kompas.com - 26/10/2017, 19:08 WIB
Ilustrasi Chinese Foods. thesomegirlIlustrasi Chinese Foods.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Belakangan, istilah generasi micin banyak dipakai untuk menggambarkan perilaku orang-orang zaman sekarang yang tidak bisa dimengerti, terutama di media sosial. Apapun perbincangannya, pasti yang dibawa-bawa micin.

Namun, benarkah micin seburuk itu sampai bisa disalahkan untuk segala perilaku tersebut?

Micin atau monosodium glutamat (MSG) adalah garam natrium asam glutamat yang ditemukan oleh Kikunae Ikeda, seorang profesor kimia Universitas Tokyo, pada 1908. Ia dianggap sebagai garam paling stabil yang mampu memberi rasa umami atau gurih pada makanan.

BACA: Kenali Nama Lain MSG

Glutamat yang merupakan bahan ajaib dari MSG sebetulnya adalah asam amino umum yang terjadi secara alami di berbagai macam makanan, seperti tomat, keju, permesan, jamur kering, kecap, buah dan sayur, bahkan ASI.

Ikeda memisahkannya dari rumput laut kering yang digunakan untuk membuat kaldu dashi dalam masakan Jepang, dan menambahkan natrium, salah satu dari dua unsur dalam garam, untuk mengubahnya menjadi bubuk yang bisa ditambahkan ke makanan. 

Sejak saat itu, MSG menjadi salah satu bahan yang paling umum digunakan dalam memasak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, MSG tiba-tiba mendapat cap buruk pada tahun 1968 setelah Dr Ho Man Kwok menulis sebuah surat ke New England Journal of Medicine mengenai sindrom restoran China.

Dalam surat itu, Kwok menceritakan bagaimana dia mengalami mati rasa di bagian belakang  leher yang menyebar hingga ke lengan dan punggung, lemas, dan berdebar-debar setiap kali makan di restoran China.

Kwok sempat menduga bahwa penyebabnya adalah kecap dan anggur, tetapi kemudian pilihannya jatuh ada MSG yang digunakan sebagai bumbu pelengkap di restoran China.

BACA: MSG Tidak Berbahaya untuk Kesehatan?

Surat Kwok ini memantik berbagai penelitian ilmiah besar yang melibatkan manusia dan hewan mengenai efek dari MSG.

Salah satu yang paling terkenal adalah eksperimen oleh peneliti Universitas Washington, Dr John W Olney, yang menemukan bahwa suntikan dosis MSG yang sangat besar di bawah kulit tikus yang baru lahir menyebabkan berkembangnya jaringan mati di otak.

Akibatnya saat tikus tumbuh dewasa, mereka menjadi kerdil, gemuk, dan beberapa di antaranya ada yang mandul.

Olney juga mengulang penelitiannya pada monyet rhesus dengan memberi mereka MSG secara oral dan mencatat hasil yang sama.

Sayangnya, 19 penelitian lain pada monyet yang dilakukan oleh peneliti lain gagal menunjukkan hasil yang sama.

Studi pada manusia juga gagal menemukan bukti tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan terhadap 71 orang sehat, para peneliti memberi subyek tambahan dosis MSG atau plasebo berbentuk kapsul.

Hasilnya, peneliti tetap menemukan adanya gejala sindrom restoran China tadi, terlepas dari apakah subyek diberi MSG atau palebo, dan bahkan setelah peserta mendapat pilihan alternatif yang lain.

BACA: Akibat Anak Sering Konsumsi Jajanan yang Mengandung MSG

Untuk menyelesaikan perdebatan ini, pada 1995, Badan pengawas obat dan makanan AS (FDA) meminta Federasi Masyarakat Amerika untuk Biologi Eksperimental untuk melihat semua bukti yang ada dan memutuskan apakah MSG benar-benar makanan jahat atau tidak.

Sebagai permulaan, para ahli menolak istilah sindrom restoran China karena penggunaan istilah ini dianggap merendahkan dan tidak memikirkan dengan luas sifat gejalanya. Sebaliknya, mereka lebih memilih menggunakan istilah sindrom gejala MSG kompleks untuk menggambarkan beragam gejala yang berkaitan dengan konsumsi MSG.

Mereka kemudian menyimpulkan bahwa ada cukup bukti ilmiah untuk menunjukkan keberadaaan kelompok individu tertentu yang memiliki respons jelek terhadap MSG dalam dosis besar. Reaksi ini biasanya muncul dalam waktu satu jam.

Akan tetapi, MSG dalam eksperimen tersebut diberikan dalam bentuk larutan dengan kadar tiga gram tanpa makanan. Padahal, kebanyakan orang mengonsumsi MSG dengan kadar 0,55 gram per hari lewat makanan.

Studi lain yang dilaksanakan pada tahun 2000 mencoba mengeksplorasi hal ini lebih jauh dengan melibatkan 130 orang yang menyebut diri mereka sendiri reaktif terhadap MSG. Subyek diberi larutan MSG atau plasebo.

Jika mereka mengalami satu di antara sepuluh gejala yang ada dalam daftar, mereka akan diuji kembali dengan MSG atau plasebo dalam dosis yang sama untuk melihat konsistensi.

Selain itu, subyek juga diuji dengan dosis yang lebih tinggi untuk melihat apakah hal tersebut justru meningkatkan gejala yang dirasakan.

Setelah diuji kembali, hanya dua dari 130 orang yang menunjukkan reaksi konsisten terhadap MSG dan bukan plasebo.

Namun, ketika mereka diuji dengan MSG dalam makanan, reaksi ini justru menjadi tidak konsisten dan menimbulkan keraguan pada validitas sensitivitas MSG.

Melihat penelitian-penelitian di atas, FDA pun mengategorikan MSG sebagai GRAS (Generally Recognised As Safe) atau umumnya diakui aman.

Meski demikian, tidak ada yang benar-benar pasti dalam dunia sains. Penelitian lebih lanjut mengenai MSG tentu akan selalu bermunculan untuk benar-benar memastikan keamanannya.

Hingga saat itu tiba, mungkin ada baiknya kita menahan diri untuk tidak menyalahkan micin ketika melihat perilaku orang-orang zaman sekarang yang tidak dapat dinalar.



Sumber BBC

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X