Dengan Alat Ciptaan Siswa SMA Ini, Tuna Netra Bisa Mendengar Warna

Kompas.com - 25/10/2017, 20:06 WIB
Jane Carolyne Hantanto memamerka alat konversi warna menjadi suara buatannya di Indonesia Science Expo (ISE) 2017 yang diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (24/10/2017) Lutfy Mairizal Putra/Kompas.comJane Carolyne Hantanto memamerka alat konversi warna menjadi suara buatannya di Indonesia Science Expo (ISE) 2017 yang diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (24/10/2017)
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com –- Punya kemampuan mengetahui keindahan kombinasi warna menjadi kelebihan tersendiri yang patut disyukuri. Pengidap buta warna atau tuna netra, misalnya, tak dapat mengetahui warna-warni alam maupun menikmati lukisan.

Di balik kurangnya penglihatan, mereka biasanya memilki sensitivitas terhadap suara yang jauh lebih baik. Kelebihan ini dapat dialihkan untuk mengetahui warna melalui suara.

Jane Carolyne Hantanto, siswa kelas XII SMAK Penabur Gading Serpong, Jakarta, membuat alat yang mampu mengonversi warna menjadi gelombang suara. Bukan melihat, tuna netra dan buta warna dapat mengetahui warna dengan ‘mendengarkan warna’.

Baca juga : Tidak Punya Tanah untuk Bertanam? Plastik pun Jadi

“Perbedaan warna menghasilkan perbedaan gelombang yang ditangkap dan bunyi yang dihasilkan melalui speaker,” kata Jane saat memamerkan penelitiannnya di Indonesia Science Expo (ISE) 2017 yang diadakan oleh Lembaga Imu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (24/10/2017).

Penelitian Jane berangkat dari pengalaman kakak kelasnya yang gagal dalam ujian kimia. Saat itu, seniornya harus mampu membedakan warna larutan kimia.

Alat buatan Jane bukanlah yang pertama. Sebelumnya mahasiswa Universitas Cornell, Deyu Liu dan Kevin Lin, telah membuat alat yang mengubah warna menjadi suara. Alat mereka mampu mengenali dan mengubah sembilan warna menjadi suara.

Jane mengklaim alat buatannya mampu mengenal lebih banyak warna. Warna merah muda, merah tua, dan merah tidak dijadikan satu suara seperti pada buatan Deyu dan Kevin.

Baca juga : Indonesia Raih 7 Medali di Ajang IESO ke-11

“Secara teori, dari alatnya itu bisa membedakan 16 juta warna. Jadi akan terbentuk 16 juta suara,” kata Jane.

Alat konversi suara buatan Jane terdiri dari arduino, LED RGB, fototransistor, pengeras suara, dan baterai yang dirangkai ke dalam satu kotak kecil.

Pertama, LED RGB diarahkan kepada bidang berwarna. Ketiga warna dasar –merah, hijau, biru– ini berkedip bergantian dalam kecepatan 1 milimeter per detik sehingga terlihat ketiga warna berkedip bersamaan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X