Situs Sangiran, dari Jawa Mengungkap Evolusi Dunia

Kompas.com - 21/10/2017, 19:00 WIB
Homo erectus, manusia purba di Sangiran yang ditampilkan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran di Medan, Kamis (19/10/2017) KOMPAS.com / Mei LeandhaHomo erectus, manusia purba di Sangiran yang ditampilkan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran di Medan, Kamis (19/10/2017)
|
EditorYunanto Wiji Utomo

MEDAN, KOMPAS.com - Gustav Heinrich Ralp Von Koenigswald, seorang geolog dan paleontolog Jerman datang ke Sangiran di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk melakukan survei dan penelitian berdasarkan peta geologis yang dibuat geolog asal Belanda, Jean Louis Chretien van Es.

Saat itu, tahun 1928, Jean bekerja di Jawatan Geologi Hindia Belanda di Bandung. Dia melakukan program pemetaan di Jawa untuk kebutuhan pertanian dan eksplorasi mineral Hindia Belanda yang targetnya selesai dalam 15 tahun.

Wilayah penelitian Jean meliputi 13 lapisan tanah di Jawa, sembilan di antaranya dilengkapi lampiran peta geologi, yaitu Baribis, Patiayam, Sangiran, Kaliuter Baringin, Lembah Sungai Bengawan Solo (Trinil), batas selatan dan utara Pengunungan Kendeng dan Gunung Pandan. Dibantu Gustav, Jean mengumpulkan data fosil spesies yang ditemukan dalam penelitiannya.

Di Sangiran, Gustav melakukan survei di Ngebung dan menemukan jejak-jejak keberadaan manusia purba. Di areal seluas 59,21 kilometer persegi pada 1934, dia kembali menemukan artefak hasil budaya manusia.

Puncaknya pada dua tahun kemudian, dia menemukan delapan individu manusia Homo erectus. Di sinilah dunia mencatat, Situs Sangiran di Sragen dan Karanganyar ditemukan pertama kali oleh Gustav.

"Sampai hari ini, sudah ditemukan 120 individu manusia purba Sangiran, atau 50 persen dari populasi Homo erectus di dunia," kata Syukron Edi, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Kamis (19/10/2017).

Dijelaskannya, temuan awal Gustav berupa alat dari batuan kalsedon dan jasper berukuran kecil. Ini menjadi indikasi kuat keberadaan manusia awal di Sangiran. Perkakas batu tersebut punya ukuran dan teknologi pengerjaan yang khas, Gustav menyebutnya sebagai Sangiran Flakes Industry dalam publikasi perdananya.

"Temuan ini langsung menjadi perhatian dunia. Dalam kurun waktu 1936 sampai 1941, sisa-sisa peninggalan manusia purba terus ditemukan. Sangiran menjadi salah satu situs hominid yang penting bagi dunia," ucap Edi.

Potensi Situs Sangiran dinilai warga dunia penting untuk ilmu pengetahuan. Pada 1977 situs ini ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya. Dilanjut pada 1996, Situs Sangiran menjadi salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO dengan nomor C593.

Dipaparkan Edi, perbedaan situs Sangiran dengan situs-situs lain adalah, dalam lapisan tanahnya yang berusia 250.000 sampai 2 juta tahun tersimpan rekaman jejak manusia dan lingkungannya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X