Survei di AS, Seperempat Pasien Kanker Gunakan Ganja Medis

Kompas.com - 27/09/2017, 20:28 WIB
Ganja ShutterstockGanja
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com – Saat mengidap kanker, berbagai macam pengobatan ditempuh untuk meningkatakan kualitas hidup. Tak terkecuali penggunaan bahan yang belum dilegalisasi sepenuhnya.

Penelitian pada pasien kanker di Seattle Cancer Care Alliance, sebuah pusat perawatan kanker di Seattle, Amerika Serikat, menyatakan bahwa hampir seperempat pasien menggunakan ganja medis pada tahun lalu.

Ketertarikan pasien pada ganja medis besar. Sayangnya, pasien yang ingin tahu lebih banyak tentang penggunan ganja selama masa perawatan tak digubris oleh dokter. Akhirnya pasien malah beralih mencari infirmasi alternatif yang diragukan kebenaranya secara ilmiah.

Terhadap 900 pasien kanker, Steven A. Pergram dan koleganya mengajukan sejumlah pertanyaan terkait penggunaan ganja maupun tentang keyakinan mereka terhadap obat.

Pergram mendapati bahwa 24 persen pasien merupakan pengguna ganja medis aktif. Artinya, mereka telah menggunakan ganja pada tahun lalu untuk gejala penyakit terkait kanker. 21 persen menggunakannya dalam satu bulan terakhir.

Baca Juga: Susunan Gen Ganja Berhasil Dipetakan

Pergram mencatat, jumlah yang didapatkan dari riset dua kali lipat dari survei nasional di Amerika Serikat.

Dari total pengguna aktif, 74 persen menggunakan ganja setidaknya seminggu sekali. 56 persen pasien memakainya sekali sehari, dan 31 persen pasien menggunakan beberapa kali dalam sehari.

Pasien kanker menggunakan ganja dengan cara dibakar atau dikonsumsi layaknya makanan.

Alasan pasien menggunakan ganja pun beragam. Tiga perempat pengguna aktif mengaku memakai ganja untuk meredakan gejala fisik, seperti rasa sakit dan mual.

Sementara, dua pertiga pasien aktif punya tujuan menggunakan ganja untuk membantu gejala kejiwaan, seperti stress dan gangguan tidur.

Para pasien kanker sendiri tidak mendapatkan informasi yang memadai soal khasiat maupun efek samping penggunaan ganja.

Dari 74 persen pasien, kurang dari 15 persen yang mendapatkan informasi dari layanan kesehatan. Sementara itu, informasi lainnya di dapat dari teman, anggota keluarga, atau pasein lain.

Penelitian yang telah dipublikasi di jurnal Cancer pada 25 September 2017 ini masih memiliki keterbatasan. Pergram dan timnya tidak meneliti khasiat dan efek samping penggunaan ganja selama masa perawatan pasien. Selain itu, populasi sampel hanya berasal dari satu pusat pengobatan, tidak dapat mewakili keadaan seluruh pasiena kanker di Amerika.

Baca Juga: Terbukti, Ganja Bisa Melawan Kepikunan

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X