Kompas.com - 18/09/2017, 21:48 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com -– Kabar duka atas serangan hewan liar terhadap manusia kembali datang. Setelah Ananda Yue Riastanto digigit ular weling (Bungarus candidus) pada 5 Januari 2017 lalu, yang terbaru adalah kematian dua orang akibat digigit buaya di Sungai Muara Jawa Ulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Pada awalnya, seorang remaja bernama Arjuna diyakini hilang dan dimakan buaya muara (Crocodilus porosus). Bermaksud menolong Arjuna, Supriyanto yang dikenal dengan sebagai pawang buaya justru menghadapi nasib yang sama.

(Baca juga: Buaya Ganas Bisa Tewas Tertindih Pohon, Ini Penjelasan Ilmiahnya)

Peneliti utama Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesa (LIPI), Hellen Kurniati, mengatakan, hal itu bisa terjadi karena buaya telah kehilangan ikan sebagai pakan alaminya. Populasi ikan di sungai Mahakam, misalnya, telah berkurang karena diambil oleh manusia.

“Selain itu, bulan ini adalah musim kawin buaya muara. Masa kawinnya bulan Agustus sampai Oktober saat musim kemarau, sungai tidak banjir,” kata Hellen saat dihubungi, Senin (18/9/2017).

Menurut Hellen, saat musim kemarau, buaya muara akan lebih sensitif sehingga lebih mudah menyerang manusia.

Hellen pun menyarankan, bila seekor buaya telah menyerang menusia, lebih baik buaya tersebut ditangkap dan dimasukan ke penangkaran. Sebab, buaya tidak lagi tertarik dengan ikan.

(Baca juga: Bagaimana Caranya agar Ular Berbisa Malas Masuk Rumah Kita?)

“Saya tidak tahu itu mengapa. Jadi lebih baik ditangkap. Kalau tidak, dia akan mencari manusia lagi. Belajar dari kasus di Nusa Tenggara Timur, itu BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) akan cari,” ucap Hellen.

Menurut Hellen, jika buaya menyerang manusia, terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, korban akan tertelan habis masuk ke dalam perut buaya. Kedua, jasad korban masih bisa dikenali meski tubuhnya banyak bengalami kerusakan.

“Kalau lapar, korban dimakan habis. Kalau tidak lapar, itu biasanya manusia hanya dipatah-patahin. Saya belum tahu di Kaltim itu bagaimana,” ujar Hellen.

Mengenai jumlah korban, Hellen punya catatan kasus gigitan buaya di Kalimantan Timur. Sebanyak 33 orang berakhir dengan meninggal dunia, sedangkan 18 orang lainnya mengalami luka-luka.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.