Kompas.com - 14/09/2017, 21:11 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com –- Penyakit jantung menjadi salah satu penyakit tidak menular yang paling ditakutkan di dunia. Salah satu penyebab kematian akibat jantung adalah henti jantung mendadak. Orang awam menyebutnya dengan angin duduk.

Bila dilihat, jumlah kasus henti jantung mendadak di Indonesia cukup memprihatinkan. Pada tahun 2014, Kementerian Kesehatan memperkirakan terdapat 10.000 orang per tahun atau sekitar 27 orang per hari yang mengalami henti jantung mendadak.

Angka itu mungkin bertambah, mengingat korban penyakit jantung koroner dan stroke diperkirakan akan mencapai 23,3 juta orang pada tahun 2030.

(Baca juga: Bagaimana Caranya agar Tidak Mati setelah Digigit Ular Berbisa?)

Pada tahun 2016, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) juga menemukan bahwa henti jantung mendadak berkisar antara 300.000 hingga 350.000 setiap tahunnya.

Untungnya, kematian akibat henti jantung mendadak dapat dicegah. Pertolongan pertama menjadi kunci agar seseorang dapat melanjutkan hidupnya.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr Jetty R H Sedyawan, SpJP(K) mengatakan, saat seseorang mengalami henti jantung mendadak, rentang waktu tujuh hingga sepuluh menit pertama merupakan waktu yang tepat untuk menyelamatkan korban.

“Pada menit-menit pertama itu, korban sangat membutuhkan pertolongan. Banyak orang yang tidak selamat karena terlambat mendapatkan pertolongan,” kata Jetty dalam diskusi "Semua Orang Bisa Menyelamatkan Hidup" yang diadakan oleh Royal Philips di kawasan Thamrin, Jakarta Selatan, Kamis (14/9/2017).

(Baca juga: Ini Alasan Pasien Kanker Payudara Baru ke Dokter di Stadium Lanjut)

Dalam rentang waktu tersebut, setiap menitnya mengandung risiko. Sebab, tingkat keselamatan seseorang yang mengalami henti jantung mendadak menurun sekitar 7 hingga 10 persen setiap menitnya. “Oksigenisasi otak jadi terlambat, (dan) otak mengalami kematian sel,” kata Jetty.

Pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan resusitasi jantung paru (CPR). Meski bukan tenaga medis, siapapun dapat melakukannya. CPR dilakukan dengan menekan bagian jantung dengan dalam dan cepat. Setiap menitnya, seseorang dapat melakukan 100 gerakan CPR untuk memacu bergeraknya jantung.

“Jangan di tempat tidur. Kalau bisa dikasih papan atau di atas lantai,” kata Jetty.

Selain CPR, nafas buatan juga dapat membantu. Dalam situasi mendesak seperti ini, identitas seksual, budaya, ataupun agama harus dikesampingkan mengingat minimnya waktu yang tersedia.

“Kalau lagi dalam keadaan darurat tidak ada tuntutan apapun. Siapa saja bisa menolong. Kalau punya mobil bawa ke rumah sakit atau panggil ambulan, tapi dalam 10 menit pertama tetap kita yang tolong,” ujar Jetty.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.