Terobosan Baru, Ilmuwan Ungkap Penyebab Utama Keguguran Tiba-tiba

Kompas.com - 14/09/2017, 07:07 WIB
Professor Roger Smith (kiri) bersama koleganya Kaushik Maiti (tengah) dan Zakia Sultana mengembangkan uji coba risiko keguguran.Rebecca Armitage Professor Roger Smith (kiri) bersama koleganya Kaushik Maiti (tengah) dan Zakia Sultana mengembangkan uji coba risiko keguguran.

KOMPAS.com -- Inilah salah satu hal paling buruk yang dapat terjadi selama kehamilan, bayi yang tumbuh di dalam rahim ibunya tiba-tiba meninggal seringkali tanpa penjelasan. Di Australia, misalnya, sekitar satu dari 100 kehamilan berakhir dengan kematian janin.

Namun Professor Roger Smith AM, seorang peneliti dari Hunter Medical Research Institute (HMRI) telah membuat terobosan besar dalam memahami misteri keguguran. Dia bersama timnya kini mengembangkan tes yang bisa memperingatkan ahli kandungan bila kondisi bayi dalam bahaya besar.

"Hal ini jelas proyek paling menarik yang pernah saya ikuti selama ini mengingat potensinya dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia," kata Prof. Smith.

(Baca juga: Keguguran Berulang Tanda Wanita Tidak Subur?)

Dia dan timnya telah menemukan bahwa banyak kejadian keguguran dipicu oleh kondisi plasenta yang memburuk.

"Dengan melihat ke semua orang yang Anda kenal di sekeliling kita, akan terlihat bahwa mereka menua pada tingkat yang berbeda," katanya.

"Hal itu hampir sama dengan plasenta. Beberapa plasenta menua lebih cepat dibandingkan yang lainnya," jelas Prof. Smith.

Pemantauan plasenta

Plasenta merupakan organ vital yang menghubungkan bayi yang sedang tumbuh dengan ibunya melalui tali pusar.

Prof. Smith percaya bahwa ada plasenta yang mulai menua beberapa minggu sebelum waktu melahirkan. Plasenta ini perlahan-lahan membuat janin kekurangan nutrisi dan oksigen yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup.

"Jika plasenta bisa bekerja, kadar oksigen pada bayi menurun, dan jika turun cukup rendah, bayinya akan mati," jelas Prof. Smith.

Plasenta yang memburuk juga mengeluarkan enzim yang disebut aldehyde oxidase.

Prof. Smith berharap untuk mengembangkan tes dalam tiga sampai lima tahun ke depan. Hasilnya diharapkan akan bisa mengingatkan dokter untuk meningkatkan tingkat enzim dalam aliran darah seorang ibu hamil.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorShierine Wangsa Wibawa
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X