Kompas.com - 11/09/2017, 21:44 WIB
Voyager
NASA/JPLVoyager
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- 40 tahun telah berlalu sejak Voyager 1 dan 2 diluncurkan pada 1977. Namun, kedua wahana antariksa milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) ini tidak pernah berhenti menghubungi bumi.

Setelah menyelesaikan perjalanannya mengelilingi planet-planet luar pada tahun 1980-an dan memberi kita gambaran asli dari planet Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus untuk yang pertama kalinya; Voyager terus melanjutkan perjalanannya menuju pinggiran tata surya.

Akhirnya, pada Agustus 2012, Voyager 1 berhasil meninggalkan gelembung perlindungan yang dibentuk oleh angin matahari dan keluar ke ruang antar bintang. Sementara itu, Voyager 2 masih berusaha keluar dari tata surya dan berada di lapisan terluar gelembung matahari yang disebut  heliosheath atau selubung surya.

(Baca juga: Dengarkan Suara Piringan Emas yang Dikirim oleh Bumi ke Antariksa)

Pada saat berita ini ditulis (11/09/2017), jarak Voyager 1 dengan bumi telah mencapai 20 miliar kilometer, sedangkan Voyager 2, 17 miliar kilometer.

“Banyak orang bertanya kepadaku bila misi (Voyager) masih berlangsung. Mereka beranggapan bahwa misi tersebut berhenti ketika Voyager melewati Neptunus,” kata Suzanne Dodd, manajer proyek Voyager di Jet Propulsion Laboratory milik NASA, kepada The Atlantic 5 September 2017.

Faktanya, Voyager selalu mengirimkan data ke bumi setiap hari. Kedua wahana antariksa tersebut mengumpulkan data di sekeliling mereka dan mengirimnya melalui sinyal radio, meskipun informasi baru diterima bumi 19 jam setelahnya untuk Voyager 1 dan 16 jam setelahnya untuk Voyager 2.

Sinyal mereka kemudian diterima oleh Deep Space Network (DSN), sekelompok antena super sensitif di sekeliling bumi yang menghabiskan empat hingga tujuh jam dalam sehari untuk mendeteksi dan berkomunikasi dengan seluruh misi NASA.

(Baca juga: Temuan-temuan Besar Penjelajah Saturnus yang Segera Akhiri Hidupnya)

Jeff Berner, ketua insinyur yang telah 30 tahun berkarier di DSN, menjelaskan bahwa Voyager memecah pengukuran mereka menjadi potongan-potongan digital yang dikirim ke bumi melalui gelombang radio.

DSN kemudian menumpulkan potongan-potongan ini dan mengirimkannya ke tim Voyager untuk diterjemahkan menjadi pengukuran yang dapat dibaca.

Akan tetapi, Voyager tidak akan bertahan selamanya. Dodd berkata bahwa setiap hari, tenaga listrik dari kedua wahana antariksa yang dipasok oleh generator radioisotope thermoelectric terus melemah.

Para peneliti dan insinyur akan mulai mematikan instrumen mereka yang berada di dalam Voyager pada tahun 2020, dan yang akan mati terakhir adalah transmitter dari wahana antariksa tersebut. Transmitter akan mati dengan sendirinya pada akhir 2020-an atau bahkan 2030-an.

“Suatu hari nanti, kita akan mencari sinyal (Voyager) dan tidak akan mendengarnya,” kata Dodd. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.