Kasus Nurlina, Bagaimana Bisa Kanker Membuat Tubuh Dipenuhi Belatung?

Kompas.com - 08/09/2017, 10:50 WIB
Badan Nurlina (34 tahun) seorang penderita kanker payudara stadium akhir tak hanya digerogoti kanker namun juga kini dikerubuti belatung hidup. Untuk mengurangi rasa sakit di badannya terutama saat belatung bereaksi, petugas mencabuti belatung dari tubuhnya setiap hari. KOMPAS.com/JUNAEDIBadan Nurlina (34 tahun) seorang penderita kanker payudara stadium akhir tak hanya digerogoti kanker namun juga kini dikerubuti belatung hidup. Untuk mengurangi rasa sakit di badannya terutama saat belatung bereaksi, petugas mencabuti belatung dari tubuhnya setiap hari.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com – Nurlina, seorang warga asal Desa Pasiang, Kecamantan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, mengalami penyakit yang tak bisa dianggap sepele.

Selain mengidap penyakit kanker payudara stadium 4, tubuhnya juga ditumbuhi puluhan belatung. Belatung telah berkembang biak hampir sepekan di dalam tubuh Nurlina.

Sayangya, ia tak juga mendapatkan perawatan yang memadai. Nurlina dipindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.

Baca : Menderita Kanker Stadium 4, Badan Nurlina Dipenuhi Belatung

Kepala Departemen Radioterapi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Prof. Dr. dr. Soehartati A. Gondhowiardjo, SpRad (K)OnkRad mengatakan, belatung tidak tumbuh pada kulit yang tertutup. Kemungkinan terdapat luka yang terbuka dan menjadi kotor.

Kanker payudara stadium 4 juga bisa tumor payudaranya sudah pecah. Luka itu terbuka kemudian kotor. Mungkin juga dihinggapi lalat,” kata Soehartati saat dihubungi Kompas.com, Kamis (7/9/2017).

Soehartati menegaskan bahwa penyakit kanker payudara dan timbulnya belatung bukanlah kondisi yang beriringan.

Belatung juga bisa tumbuh pada penyakit lain dengan luka terbuka, misalnya, hal itu bisa terjadi pada penderita diabetes melitus. Saat kaki pesien terluka, kotoran dapat masuk dan terjadi pembusukan.

“Bukan berarti kanker stadium 4 atau kanker payudara harus kena belatung. Itu dua hal yang berbeda,” ucap Soehartati.

Kemoterapi dapat menjadi pilihan pengobatan Nurlina. Selain itu, kondisi kesehatannya secara umum juga harus diperbaiki. Jika terdapat kekurangan cairan atau diperlukan pembahan gizi, cairan infus dapat diberikan. Kemudian, luka yang telah dihinggapi belatung juga dibersihkan.

Baca Juga: Gula Memang Memberi Makan Sel Kanker, tetapi...

Untuk pasein kanker, upaya pengobatan difokuskan pada perbaikan kualitas hidup. Meski telah sampai pada stadium akhir, selalu ada kemungkinan untuk mengontrol kanker dengan perawatan yang memadai.

“Bicara kanker tidak bicara sembuh. Kita bicara kemungkinan hidup 5 tahun – 10 tahun dengan pengobatan yang baik,” ujar Soehartati.

Sayangnya, Nurlina tidak lagi mendapatkan perawatan. Sebuah rumah sakit menjanjikan kepada Nurlina untuk diberikan kemoterapi, namun lebih dari dua bulan kemoterapi tak kunjung ia dapatkan dan tanpa mendapat penjelasan.

Dengan memgang kartu BPJS Kesehatan, pemerintah setempat dapat ikut membantu meringankan apa yang dialami Nurlina. Dengan kondisinya seperti itu, Nurlina tetap harus mendapat pengobatan yang layak.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kena Cahaya Bulan, Tubuh Tokek Gurun Ini Jadi Hijau Neon

Kena Cahaya Bulan, Tubuh Tokek Gurun Ini Jadi Hijau Neon

Fenomena
CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

Oh Begitu
Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Oh Begitu
9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

Oh Begitu
BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Fenomena
Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Fenomena
[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

Fenomena
NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

Fenomena
Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Fenomena
Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Oh Begitu
Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Oh Begitu
BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

Oh Begitu
BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X