Kompas.com - 13/08/2017, 19:02 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorYunanto Wiji Utomo

Media sosial kita, tidak kita cari pasti sampai (informasinya) sehingga akhirnya mencari atau tidak mencari kecemasannya sama,” ujar Nova.

Saat ditanya topik yang menyebabkan kecemasan, partisipan menjawab topik penistaan agama dibandingkan tiga topik lainnya, yaitu berita palsu atau hoax, ras, dan lainnya.

“Yang paling ada di atas pikiran partisipan adalah isu ujaran kebencian. Tapi topik yang paling menimbulkan kecemasan adalah masalah ras 85,7 persen,” ucap Nova.

Baca Juga: Agama Gajah Mada dan Majapahit yang Sebenarnya Akhirnya Diungkap

Selain itu, konflik horizontal pun terjadi. Selama masa Pilkada Jakarta 2017, tak jarang terdengar putusnya relasi pertemanan setelah debat menjagokan salah satu pasangan calon.

Berdasarkan hasil survei, kecemasan partisipan yang kehilangan teman maupun tidak  hampir sama. 51 orang kehilangan teman dengan kecemasan 66,7 persen.

“Kami temukan kecemasan ini karena media sosial yang begitu kuat dalam sendi-sendi kehidupan. Begitu mudah mengakses. Sedangkan tidak semua orang terbentuk sebagai politisi. Politisi sudah biasa menghadapi itu. Orang parpol di survey tidak mengalami kecemasan. Tapi orang non-parpol saat mereka terpapat politik dengan gamblang ada kecemasan yang muncul,” kata Nova.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca Juga: Punya Banyak Akun Media Sosial Bisa Memicu Depresi

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X