Ekpedisi Terumbu Karang Taman Nasional Teluk Cenderawasih Dimulai

Kompas.com - 10/08/2017, 09:06 WIB
Pemandangan bawah laut Teluk Cenderawasih. Irwanto, WWF Indonesia program PapuaPemandangan bawah laut Teluk Cenderawasih.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

MANOKWARI,KOMPAS.com -- Tim ekspedisi Kompas memulai ekspedisi terumbu karang di Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC), Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat pada hari Rabu (9/8/2017).

Kedatangan tim ini untuk memantau kondisi masyarakat serta terumbu karang di perairan tersebut.

Ekspedisi yang diselenggarakan untuk kali pertama ini akan dilaksanakan dari tanggal 10 Agustus hingga 16 Agustus 2017 di perairan TNTC yang mencakup dua wilayah, yakni kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat, dan Kabupaten Nabire, Provinsi Papua.

(Baca juga: Bermigrasi atau Aktif Bergerak? Riset Ungkap Perilaku Hiu Paus Teluk Cendrawasih)

Diketuai oleh Ichwan Susanto dan wakil tim Ingki Rinaldi, ekspedisi ini diikuti oleh tiga anggota, yaitu M Hilmi Faig, Budiawan Sidik Arifianto, dan Ferganata Indra Riatmoko. Lalu, satu peneliti dari P20 LIPI, Ludi Parwadani Aji, juga akan turut serta.

Tim ekspedisi akan bertolak ke perairan TNTC dari Kawasan Gunung Botak, Kabupaten Manokwari Selatan, pada Kamis (9/8/2017), dengan menggunakan KM Gurano Bintang.

Selama berada di TNTC, tim ekspedisi terumbu karang akan melakukan pengamatan yang berada di wilayah konservasi maupun di luar konservasi, termasuk masyarakatnya.

Sebelum berangkat, Ben Gurion Saroy selaku Kepala Balai Besar TNTC memberi tim ekspedisi sedikit gambaran terkait keberadaan luasan perairan TNTC dan jumlah penduduk di kawasan tersebut.

“Luasnya sekitar 1.453.500 hektar, meliputi dua wilayah Papua dan Papua Barat, dengan pembagian tiga sub divisi,” kata Ben.

Selanjutnya, pada tanggal 17 Agustus 2017, tim ekspedisi Kompas akan bertolak dari Kabupaten Nabire, provinsi Papua, ke Jakarta untuk melanjutkan perjalanan ke wilayah lainnya di Indonesia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X