BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan RSPO

Buktikan Peduli Lingkungan, Generasi Milenial Bisa Apa?

Kompas.com - 08/08/2017, 15:07 WIB
Para peserta Youth Leader in Sustainability berfoto bersama dewan juri setelah pengumuman pemenang, Selasa (20/6/2017) di Jakarta Pusat. Erwin HutapeaPara peserta Youth Leader in Sustainability berfoto bersama dewan juri setelah pengumuman pemenang, Selasa (20/6/2017) di Jakarta Pusat.
|
EditorSri Noviyanti
KOMPAS.com – Kapan terakhir kali Anda belanja di supermarket atau pasar tradisional? Lalu, masihkah diberi kantong plastik untuk membawa belanjaan?

Terkait dengan itu, masih ingatkah Anda dengan kebijakan pemerintah soal kantong plastik berbayar? Kebijakan itu dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Uji coba pemberlakuannya pun telah dilakukan pada 21 Februari 2016 hingga 5 Juni 2016.

Dengan aturan tersebut, masyarakat harus membawa kantong atau tas sendiri saat berbelanja. Jika tidak, ada tambahan ongkos maksimal hingga Rp 500 untuk setiap kantong plastik belanja yang diberikan.

Latar belakangnya adalah pola konsumtif masyarakat yang berakibat pada meningkatnya kebutuhan akan kantong belanja. Keadaan itu berujung pada gunungan sampah plastik yang sulit diurai.

(Baca juga: Orangutan Terus Jadi Korban, Petani Sawit Wajib Taat Aturan)

Hal yang terjadi kemudian adalah tercemarnya laut oleh sampah plastik sehingga tak sengaja menjadi makanan ikan. Keadaan semakin buruk saat ikan-ikan itu akhirnya dikonsumsi manusia dan berpotensi mengakibatkan keracunan.

Sejak itu, kebijakan plastik berbayar diberlakukan secara serentak di 22 kota di Indonesia. Maksudnya untuk mengurangi penggunaan sampah plastik di Indonesia dan menjaga kelestarian lingkungan.

Tak hanya plastik

Peraturan itu sejalan dengan program Gerakan Diet Kantong Plastik yang diinisiasi oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan hidup, perusahaan produk perawatan wajah dan tubuh, serta perwakilan individu.

Mirip dengan gerakan itu, World Wildlife Fund (WWF) Indonesia sebagai lembaga nirlaba yang peduli terhadap lingkungan pun mengampanyekan hal yang sama. Program itu bertajuk “Beli yang Baik”.

Serupa tetapi tak sama, kampanye yang dimulai sejak Juni 2015 itu ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya masyarakat urban, dan diharapkan ikut memikirkan dampak konsumsi sehari-hari terhadap lingkungan.

Cuplikan video ilustrasi imbauan pada konsumen untuk membeli produk yang baik dan ramah pada lingkungan.www.beliyangbaik.org/ Cuplikan video ilustrasi imbauan pada konsumen untuk membeli produk yang baik dan ramah pada lingkungan.

Saat bertemu dengan Kompas.com pada pertengahan April 2017, Footprint Campaign Coordinator WWF Indonesia Margareth Meutia mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang meningkat membuat gaya konsumsi masyarakat juga meningkat.

Untuk mengampanyekan program “Beli yang Baik”, WWF Indonesia gencar melakukannya melalui tiga cara, yakni melalui media digital, kerja sama dengan komunitas, dan partnership alias kemitraan.

Merasa tidak bisa jalan sendiri, WWF Indonesia juga mengajak sejumlah perusahaan yang mempunyai pesan yang sama, yaitu produsen tisu, margarin, alat tulis dan gambar, otomotif, serta aneka produk konsumen (consumer goods).

Kampanye ini mencakup berbagai produk yang berhubungan dengan efisiensi energi, misalnya penggunaan kayu untuk tisu dan kertas, makanan laut, elektronik, termasuk produk lain berbahan dasar kelapa sawit.

Bagi Margareth, dari hal-hal yang dia sebutkan, produk berbahan dasar sawit mesti diperhatikan karena berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari manusia, di antaranya produk makanan kecil, minyak goreng, dan kosmetik.

(Baca juga: Petani-petani Sakti di Lahan Sawit)

Dampak pada lingkungan, misalnya, pembukaan lahan hutan untuk kebun sawit yang mengakibatkan bertambahnya emisi karbon dioksida. Padahal, tadinya hutan itu untuk menyerap karbon dioksida.

“Dari data kami, tutupan hutan di Sumatera berkurang dari 58 persen pada 1985 menjadi 25 persen pada 2014. Itu karena aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, dan permukiman,” ucap Margareth.

Kerja sama dengan RSPO

Memastikan dampak produk berbahan dasar sawit tak merusak lingkungan, WWF Indonesia membuat kerja sama dengan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)—organisasi non-profit sebagai wadah para pemangku kepentingan di berbagai sektor industri sawit.

Para anggotanya mulai dari produsen, pengolah, dan penjual barang berbahan sawit untuk konsumen; institusi keuangan; hingga lembaga swadaya masyarakat agar bersama-sama membuat dan menerapkan standar untuk produksi sawit berkelanjutan.

Berkelanjutan artinya manfaat yang bisa dirasakan terus-menerus bagi orang-orang yang terlibat dalam industri tersebut saat ini dan bagi generasi yang akan datang.

Setidaknya, ada nilai ekonomis yang bisa dirasakan berbagai pihak, sekaligus menjaga kelestarian lingkungandan sosial. Nantinya, anggota yang dapat mengimplementasikan hal tersebut akan mendapat sertifikat.

Untuk merangkul masyarakat, RSPO dan WWF menggelar sejumlah aktivitas, salah satunya adalah kampanye “Beli yang Baik”—hasil kerja sama dengan produsen margarin Mother’s Choice dan tisu Tessa.

Namun, usaha edukasi kepada masyarakat itu butuh kreativitas. Kuncinya yaitu bagaimana menangkap perhatian mereka dalam waktu singkat, bahkan hitungan detik, khususnya generasi muda, atau sekarang sering disebut sebagai generasi milenial.

Ilustrasi generasi milenialThinkstockphotos Ilustrasi generasi milenial

Pada beberapa kesempatan, WWF Indonesia memberi materi pelajaran soal produk berkelanjutan di sejumlah sekolah. Cara lainnya yaitu menggelar kompetisi Youth Leader in Sustainability.

“Untuk melihat peran anak muda Indonesia mengenai produk berkelanjutan,” ujar Direktur RSPO Indonesia Tiur Rumondang, Selasa (20/6/2017) di Jakarta Pusat.

Setelah dilakukan sosialisasi dan seleksi di sejumlah kota dan perguruan tinggi, termasuk penyaringan peserta lewat aplikasi Sustainability Quest, didapatlah tiga pemenang yang menjadi duta muda produk berkelanjutan.

“Kami ingin melihat peran anak muda Indonesia dalam suatu hal yang masih relatif asing, yaitu tentang sustainability, tapi bisa berguna dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Tiur.

Menurut Tiur, anak muda adalah generasi yang akan menjadi konsumen masa depan. Prinsip berkelanjutan perlu ditanamkan dari sekarang agar mereka mau bicara dengan anak muda lainnya dengan bahasa mereka soal produk berkelanjutan.

Bagi RSPO, hal itu dianggap penting untuk dimulai lebih dini mumpung mereka belum berpenghasilan. Kelak, diharapkan mereka bisa selektif sebagai konsumen serta mengetahui dampak positif dan negatif dari suatu produk.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Olahraga saat Puasa Bantu Turunkan Berat Badan, Kapan Waktu yang Tepat?

Olahraga saat Puasa Bantu Turunkan Berat Badan, Kapan Waktu yang Tepat?

Kita
8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

Kita
Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya