Kompas.com - 07/08/2017, 09:05 WIB
Seorang pria mendinginkan dirinya di air mancur Piazza Castello di Turin (2/8/2017) Marco BERTORELLO / AFPSeorang pria mendinginkan dirinya di air mancur Piazza Castello di Turin (2/8/2017)
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Gelombang panas terparah selama lebih dari satu dekade terakhir yang diberi nama "Lucifer" melanda sebagian Benua Eropa dengan suhu mencapai 44 derajat celsius.

Italia dan kawasan Balkan adalah dua daerah paling terdampak gelombang panas.

Di Sardinia, pulau teritori Italia di Laut Mediterania, temperatur menembus 44 derajat celsius. Kemudian di Roma suhu mencapai 43 C, sedangkan warga di Sisilia mengalami suhu 42 C.

Pemerintah Italia mengimbau penduduk tetap di dalam ruangan dan minum air dalam jumlah banyak.

(Baca juga: Tahun 2100, Suhu di Negara-negara Ini Akan Membunuh Manusia)

Sejauh ini, sebagaimana dilaporkan kantor berita Reuters, seorang dari Romania dan seorang lainnya dari Polandia telah meninggal dunia akibat gelombang panas. Sejumlah orang juga telah dibawa ke rumah sakit.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gelombang panas pun telah mengakibatkan kebakaran hutan di Albania. Di tengah suhu 40 C, serdadu-serdadu bahu-membahu bersama ratusan petugas pemadam kebakaran untuk menghentikan laju kebakaran.

Bahkan, pemerintah Albania telah meminta bantuan darurat Uni Eropa untuk mencegah kebakaran hutan dekat Ibu Kota Tirana.

Dinas meteorologi Eropa, Meteoalarm, memperkirakan suhu tinggi akan melanda sejumlah kawasan di Eropa Tengah dan Balkan dalam beberapa hari mendatang.

Karena itu, baik kalangan turis maupun penduduk diimbau mendinginkan tubuh di pancuran publik dan menggunakan payung saat berjalan di luar.

Kajian yang baru dipublikasikan jurnal ilmiah The Lancet Planetary Health, cuaca ekstrem berpotensi membunuh 152.000 orang setiap tahun sampai 2100 mendatang jika perubahan iklim tidak dihalangi.

Dari jumlah kematian tersebut, penelitian itu menyebutkan, 99% muncul akibat gelombang panas. Adapun daerah yang paling parah terdampak adalah Eropa bagian selatan.

Artikel ini sudah pernah tayang di BBC Indonesia dengan judul: Gelombang panas melanda Eropa, suhu tembus 44 derajat Celsius

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Laura Anna Lumpuh karena Dislokasi Tulang Leher Setelah Kecelakaan, Kondisi Apa Itu?

Kasus Laura Anna Lumpuh karena Dislokasi Tulang Leher Setelah Kecelakaan, Kondisi Apa Itu?

Fenomena
4 Makanan Pahit Namun Kaya Manfaat untuk Kesehatan

4 Makanan Pahit Namun Kaya Manfaat untuk Kesehatan

Oh Begitu
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Hantam Indonesia Hingga 9 Desember

BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Hantam Indonesia Hingga 9 Desember

Fenomena
Video Viral Siswi SMA Mencoba Bunuh Diri karena Video Asusila Tersebar, Apa Dampaknya bagi Korban?

Video Viral Siswi SMA Mencoba Bunuh Diri karena Video Asusila Tersebar, Apa Dampaknya bagi Korban?

Kita
Apa Itu Sotrovimab, Obat Antibodi yang Disebut Mampu Lawan Omicron?

Apa Itu Sotrovimab, Obat Antibodi yang Disebut Mampu Lawan Omicron?

Oh Begitu
Inggris Setujui Obat Covid-19 Sotrovimab, Tampaknya Bisa Lawan Omicron

Inggris Setujui Obat Covid-19 Sotrovimab, Tampaknya Bisa Lawan Omicron

Oh Begitu
Cara Unik Semut Bagikan Informasi pada Kawanannya, Muntahkan Cairan ke Mulut Satu Sama Lain

Cara Unik Semut Bagikan Informasi pada Kawanannya, Muntahkan Cairan ke Mulut Satu Sama Lain

Oh Begitu
Imunisasi Kejar, Susulan Imunisasi Dasar yang Tertunda untuk Anak

Imunisasi Kejar, Susulan Imunisasi Dasar yang Tertunda untuk Anak

Oh Begitu
Orbit Bumi Berfluktuasi Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Orbit Bumi Berfluktuasi Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Fenomena
[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

Oh Begitu
5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

Oh Begitu
Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Fenomena
4 Tahapan Siklus Menstruasi

4 Tahapan Siklus Menstruasi

Kita
Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Fenomena
Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.