Orang Jakarta Bisa Selamatkan Harimau Sumatera kalau Mau Hemat Tisu

Kompas.com - 28/07/2017, 19:39 WIB
Sepasang Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Selasa (16/3). Perburuan liar dan perdagangan gelap merupakan ancaman paling serius yang dihadapi satwa dilindungi tersebut saat ini yang kian mendekati kepunahan. KOMPAS/LUCKY PRANSISKASepasang Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Selasa (16/3). Perburuan liar dan perdagangan gelap merupakan ancaman paling serius yang dihadapi satwa dilindungi tersebut saat ini yang kian mendekati kepunahan.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

JAKARTA, KOMPAS.com – World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia mengajak masyarakat urban ikut melindungi Harimau Sumatera.

Caranya pun mudah, dengan tepuk tangan sebanyak 30 kali untuk mengeringkan tangan setelah cuci tangan. Jangan pakai tisu.

Berdasarkan hasil penelitian WWF Indonesia bersama dengan creative agency Hakuhudo, masyarakat urban punya kebiasaan menghabiskan tiga lembar tisu untuk mengeringkan tangan.

Tisu salah satu produk hasil ekstraktif hutan. Kalau permintaan semakin besar, produksinya dengan membuka hutan alam juga semakin besar,” kata Direktur Kebijakan, Keberlanjutan, dan Transforamsi WWF Indonesia Aditya Bayunanda saat mensosialisasikan kampanye #30Claps di Jakarta, Jumat (28/7/2017).

Produk yang berasal dari hutan harus mendapatkan sertifikat Forest Stewadship Council (FSC). Sertifikat FSC mengindikasikan pengelolaan produk hutan yang mengindahkan kaidah kelestarian.

Sayangnya, saat menggunakan tisu yang tersendia di mal misalnya, sulit diketahui produk tersebut ramah terhadap lingkungan.

“Nah kalau sertifikat seperti itu tidak ada, maka pilihannya lebih baik dikurangi penggunaan tisunya,” kata Aditya.

Aditya menuturkan, lebih dari separuh hasil produksi tisu dimanfaatkan untuk kepentingan domestik. Bila warga Indonesia bisa mengubah pola konsumsinya, maka itu bisa membantu mengurangi penebangan hutan dan ikut menyelamatkan harimau sumatera. \

“Itu yang coba kami sasar. Kesadaran bahwa masyarakat urban pun bisa punya peran. Ini akan membentuk perilaku orang kepada hutah,” ujar Aditya.

Sementara ini, WWF Indonesia telah bekerjasama dengan lima mall. Antara lain, Central Park Mal, Neo Soho Mal, Senayan City, Kuningan City, The Plaza Balikpapan, APL Tower, dan Soho Capital untuk mengurangi penggunaan tisu.

Marketing Communication Manager Neo Soho dan Centeral Park, Welly Adi mengatakan, pihanya menggunakan 2.000 Kg tisu sepanjang tahun 2016. Kini, konsumsi tisu ditargetkan menurun.

“Penggunaan tisu akan diurunkan. Kami akan pantau terus. Karena ini berhubungan dengan biaya operasional juga. Kami akan sounding agar bisa diterapkan di semua mal kita,” ucap Welly.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X