Bintik Merah Raksasa Jupiter Tertangkap Mata Juno, Sejarah Tercipta

Kompas.com - 15/07/2017, 16:36 WIB
Gambar Bintik Merah Raksasa Jupiter dari JunoCam yang sudah diproses oleh Jason Major NASA/JPL-Caltech/SwRI/MSSS/Jason MajorGambar Bintik Merah Raksasa Jupiter dari JunoCam yang sudah diproses oleh Jason Major
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com -- Wahana antariksa Juno milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat ( NASA) membawa pulang kabar gembira bagi para peneliti di seluruh dunia. Pasalnya, Juno berhasil mendapatkan gambar Bintik Merah Raksasa dari planet Jupiter dalam penerbangannya pada Senin (10/7/2017).

Bintik Merah Raksasa tersebut ternyata merupakan berlapis-lapis awan hitam yang terjalin dan membentuk oval dengan lebar 16.350 kilometer atau sekitar 1,3 kali lipat dari lebar bumi.

Gambar tersebut diturunkan dari memori JunoCam, sebuah kamera yang terpasang pada Juno ketika misi luar angkasa tersebut mencapai perijove (titik di mana orbit berada paling dekat dengan pusat Jupiter) pada tanggal 10 Juli pukul 18.55 PDT (8.55 WIB pada tanggal 11 Juli 2017).

Pada saat perijove, Juno berada sekitar 3.500 kilometer di atas puncak awan planet ini. Lalu, 11 menit dan 33 detik kemudian, Juno telah menempuh jarak sejauh 43.271 kilometer, dan berada tepat di puncak awan Bintik Merah Raksasa. Dengan demikian, Juno telah menempuh jarak sekitar 9.000 kilometer di atas awan ikonis ini.

Setelah dipublikasikan pada situs JunoCam, para tim Juno mempersilahkan astronom amatir untuk mengambil dan memproses gambar mentah planet terbesar di tata surya itu. Proses tersebut ditujukan untuk meningkatkan detail gambar.

"Saya telah mengikuti misi Juno sejak diluncurkan," kata Jason Major, seorang astronom amatir JunoCam dan perancang grafis dari Warwick, Rhode Island, Amerika Serikat, seperti yang dikutip dari situs resmi NASA.

Dia melanjutkan, selalu mengasyikkan melihat gambar mentah baru Jupiter saat mereka tiba. Tapi lebih mendebarkan lagi untuk mengambil gambar mentah dan mengubahnya menjadi sesuatu yang dihargai orang lain. Itulah yang saya jalani.

Juno diluncurkan pada tanggal 5 Agustus 2011 dari Cape Canaveral, Florida. Selama misi eksplorasi, Juno terbang rendah di atas puncak awan Jupiter dan mencapai jarak 3.400 kilometer. Dalam posisi ini, Juno menyelidiki awan yang menutupi Jupiter dan aurora untuk mengetahui lebih banyak tentang asal-usul planet, struktur, atmosfer dan magnetosfer.

Menanggapi keberhasilan ini, Jim Green selaku direktur sains planet NASA mengatakan, gambar Bintik Merah Raksasa yang sangat dinanti-nanti ini adalah 'badai sempurna' seni dan sains. Dengan data dari Voyager, Galileo, New Horizons, Hubble, dan sekarang Juno, kami memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai komposisi dan evolusi fitur ikonis ini.

Sementara itu, astronom amatir Marufin Sudibyo mengatakan, keberhasilan Juno merupakan sejarah baru bagi umat manusia.

Menurut dia, Bintik Merah Raksasa merupakan konsekuensi dari besarnya panas yang dihasilkan interior Jupiter. Sayangnya, Jupiter tak memiliki permukaan keras sehingga panas interior tersebut meluap dan meletup sebagai badai raksasa.

“Dan kali ini, lewat bantuan wahana antariksa Juno, manusia berhasil 'mendekat' hingga kurang dari 10.000 kilometer saja dari Bintik Merah Raksasa dan siap menguak strukturnya,” kata Marufin kepada Kompas.com.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X