Kepunahan Massal ke-6 Sudah Dimulai, Siapkah Anda?

Kompas.com - 13/07/2017, 21:09 WIB
Ilustrasi PinkPythonIlustrasi
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Stephen Hawking pernah berkata bahwa manusia hanya punya waktu 1000 tahun di bumi. Peringatan tersebut kemudian direvisi kembali oleh sang fisikawan menjadi 100 tahun dalam acara Tomorrow’s World untuk BBC.

Tampaknya Hawking benar. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, mengungkapkan bahwa kita sedang berada dalam kepunahan massal keenam, dan pada abad berikutnya, tiga per empat dari semua spesies yang ada saat ini akan hilang dari muka bumi.

Lalu, bila lima kepunahan massal sebelumnya murni disebabkan oleh alam, kepunahan kali ini dipercepat oleh campur tangan manusia.

(Baca juga: Stephen Hawking: Manusia Tinggal Punya Waktu 1.000 Tahun di Bumi

Menggunakan istilah “pemusnahan biologi”, profesor ekologi  Gerardo Ceballos dari Universidad Nacional Autonam de Mexico dan pakar biologi Paul Ehrlich dari Standford University menjelaskan tingkat keparahan kepunahan massal ini.

Mereka menemukan bahwa 50 persen dari semua hewan di dunia telah hilang dalam beberapa dekade terakhir. Lalu, sepertiga dari 27.600 spesies mamalia darat, burung, amfibi, dan reptil juga menyusut jumlah dan habitatnya.

Para peneliti pun mengonklusikan bahwa kepunahan massal keenam ini lebih parah dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Ini adalah studi paling lengkap yang kutahu,” kata Anthony Barnosky, executive director untuk Jasper Ridge Biological Preserve di Stanford University yang tidak terlibat dalam studi tersebut, kepada CNN 11 Juli 2017.

(Baca juga: 4 Skenario Kehancuran Bumi Menurut Sains)

Dia melanjutkan, kita tidak sadar adanya kepunahan ini karena tidak ada yang pernah menghitung jumlahnya per individu. Namun, ketika Anda sadar bahwa kita telah menghilangkan 50 persen dari margasatwa bumi dalam 40 tahun terakhir, Anda bisa membayangkan bahwa bila tren ini berlanjut, maka sebentar lagi bumi akan kosong.

Akan tetapi, hasil penelitian Ceballos dan Ehrlich bukan hanya untuk menakut-nakuti saja. Ya, krisis kepunahan massal memang telah dimulai, tetapi mereka juga ingin menekankan bahwa perubahan drastis dibutuhkan untuk menghadapinya.

“Kabar baiknya adalah kita masih punya waktu. Hasil ini menunjukkan bahwa ini adalah saatnya untuk melakukan sesuatu. Jendela kemungkinannya memang kecil, tetapi kita masih bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan spesies dan populasi bumi,” ujar Ceballos.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X