Kompas.com - 11/07/2017, 20:11 WIB
Karang Perairan Dalam Vojce / Shutterstock Karang Perairan Dalam
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com – Bagi karang, cahaya matahari menjadi unsur penting bagi kelangsungan hidup. Namun, sinar berlebih pada perairan dangkal juga bisa mengacaukan.

Karang hidup secara simbiosis mutualisme dengan alga. Invertebrata laut ini menjadi rumah bagi alga mikroskopis dari genus Symbiodinium, yang biasa dikenal dengan zooxanthellae.

Alga memakan limbah karang dalam bentuk karbon dioksidan dan nitrogen. Sebagai gantinya, fotosintesis alga memghasilkan 90 persen protein yang dibutuhkan karang.

Radiasi sinar ultraviolet yang terlalu banyak dapat mengacaukan alga yang hidup di dalam tubuh karang.

Untuk mengatasinya, karang di perairan dangkal menghasilkan protein yang berfungsi sebagai tabir surya. Bila diamati, karang terlihat seperti bersinar.

Namun, cerita itu tak berlaku bagi karang yang hidup di perairan dalam. Pada kedalaman 165 meter, sinar matahari yang masuk sangat lemah.Diketahui, cahaya matahari hanya bisa menembus kedalaman 200 meter.

Lantas, bagaimana karang di sana bertahan hidup? Ilmuwan mengungkap, mereka ternyata menggunakan trik sulap.

Para peneliti dari University of Southampton telah mengungkap trik “sulap” karang di perairan dalam lewat penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the Royal Society B pada 5 Juli 2017.

Saat sinar matahari terlalu terang, karang menggunakan trik mengubah sinar pada panjang gelombang yang berbeda.

Sinar biru air laut diubah menjadi cahaya merah-jingga yang bisa diserap alga ke dalam sel mereka.

Cahaya itu akan membantu alga dalam proses fotosintesis. Pengubahan panjang gelombang warna merah-jingga tersebar di jaringan karang dari kalsium karang.

Perubahan cahaya itu diuji oleh tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan karang Jörg Wiedenmann.

Pengujian dilakukan di laboratorium akuarium karang. Pengamatan ini juga disesuaikan dengan apa terjadi di lautan.

Misalnya, di Laut Merah hanya karang terdalam yang memancarkan cahaya merah-jingga.

Wiedenmann dan rekannya menemukan bahwa karang yang bercahaya merah cenderung bertahan lebih baik dalam jangka panjang.

Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi penting ketika karang di lautan dangkal di seluruh dunia terancam punah.

"Habitat air dalam didiskusikan sebagai tempat perlindungan potensial untuk karang saat makin meningkatnya terumbu air dangkal yang terdegradasi," kata Wiedenmann seperti dikutip dari Science Alert pada Selasa (11/7/2017).

Sayangnya, tidak semau karang mampu menggunakan trik tersebut untuk terus bertahan di perairan yang gelap.

“Sangat penting kita melakukan yang terbaik untuk menjaga rumah mereka (karang) di air dangkal yang layak huni," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.