Kompas.com - 11/07/2017, 18:10 WIB
Merkurius NASAMerkurius
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com –- Para peneliti dibuat penasaran dengan Merkurius. Planet paling kecil di tata surya ini menyusut dan belum diketahui alasan di balik penyusutan tersebut. Untuk menyelidikinya, European Space Agency (ESA) dan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) bekerja sama meluncurkan misi eksplorasi ruang angkasa pada 2018 mendatang.

Wahana antariksa BepiColombo ini juga akan ditugaskan untuk mencari air es di kutub Merkurius dan di gunung berapi yang terlindungi dari sinar matahari. Temuan itu diharapkan dapat memberikan petunjuk tentang komposisi Merkurius saat pembentukan planet terjadi.

Selain itu, para ilmuwan ingin mengunakan BepiColombo untuk menguji teori relativitas umum Einstein hingga 100 kali lebih akurat dari pada yang bisa didapatkan di Bumi.

(Baca juga: Terungkap, Planet Merkurius Mengurus Sebanyak 7 Kilometer)

Lalu, misteri lain yang perlu diungkap adalah inti besi besar Merkurius yang dilapi oleh batuan silikat tipis. Menurut hipotesis yang ada saat ini, matahari atau tabrakan dengan planet lain mengikis lapisan terluar Merkurius. Sayangnya, hipotesis tersebut tidak sesuai dengan pemindaian permukaan yang diambil oleh Messenger pada tahun 1974.

Dengan menggunakan instrumen yang lebih akurat dan jarak lebih dekat, para ahli dari ESA dan JAXA berharap untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Wahana antariksa BepiColomboESA/ATG medialab Wahana antariksa BepiColombo

Meski demikian, mendatangi Merkurius bukanlah perkara mudah. Planet ini berada sekitar 77 juta kilometer dari bumi.

Lalu, atsmosfer yang sangat tipis membuat proses perlambatan wahana antariksa ketika turun dari ruang angkasa menjadi sangat sullit. Untuk dapat mengerem sebanyak mungkin sebelum sampai di Merkurius, BepiColombo harus melalui sembilan titik untuk menghabiskan energi: satu di sekitar bumi, dua di sekitar venus, dan enam di sekitar Merkurius.

“Merkurius adalah planet berbatu yang paling kurang dieksplorasi, tapi bukan karena (Merkurius) tidak menarik. Namun, sangat sulit untuk sampai ke sana dan lebih sulit lagi untuk bekerja di sana, " kata kepala ESA, Alvaro Giménez Cañete seperti yang dikutip dari Science Alert 8 Juli 2017.

(Baca juga: Misi Berakhir, Wahana Antariksa Messenger Tabrak Merkurius)

Pada saat wahana antariksa berhasil mencapai orbit Merkurius, sekitar tahun 2025, total jarak perjalanan yang telah dilakukannya akan setara dengan mengelilingi tata surya sebanyak 18,5 kali.

Begitu berada dalam posisinya, BepiColombo juga perlu bertahan melalui suhu ekstrim Merkurius yang berkisar antara -170 derajat Celcius pada malam hari hingga 430 derajat Celcius pada siang hari. “Ini seperti mengoperasikan wahana antariksa di dalam oven,” kata Project Manager BepiColombo, Ulrich Reininghaus dari ESA.

Saat berada di orbit, BepiColmbo akan membelah diri menjadi dua penyelidikan, satu dibuat oleh ESA dan satunya dibuat oleh JAXA. Kemudian, keduanya akan melanjutkan pengumpulan data dari dua penyelidikan sebelumnya, yakni Mariner 10 yang tiba pada tahun 1974 dan Messenger yang tiba pada tahun 2008 di Merkurius.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X