Kompas.com - 10/07/2017, 16:47 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com – Belalang sembah merupakan salah satu serangga yang dianggap unik karena penampilannya. Berdiri tegak dengan kedua kaki depan menjulur ke depan layaknya pendoa, hewan ini juga menjadi salah satu tokoh dalam film serial Kung Fu Panda.

Namun, jangan tertipu dengan penampilannya. Belalang sembah memiliki perilaku berburu yang mengerikan. Layaknya zombi, belalang sembah memakan otak burung hidup-hidup. Penelitian tentang perilaku itu telah dipublikasikan di The Wilson Journal of Ornithology edisi Juni 2017.

Makanan belalang sembah umumnya memang artropoda. Namun, ilmuwan pun telah mengetahui bahwa spesies itu bisa memangsa hewan yang ukurannya lebih besar darinya, seperti katak, kadal, dan ular. 

Martin Nyffeler dari Universitas Basel di Swiss, bersama timnya meninjau semua literatur ilmiah dan laporan lain yang bercerita tentang pemangsaan burung oleh belalang sembah. Tercatat, belalang sembah memangsa 2 jenis burung berbeda di 13 negara berbeda.

Sejak dokumentasi pertama pada tahun 1864, terdapat 147 kasus. Sebagian besar serangan terjadi pada burung kolibri di Amerika Serikat. Kolibri sering disergap belalang sembah di rumah kebun.

"Fakta bahwa perilaku memakan burung sangat umum pada belalang sembah, baik secara taksonomi maupun geografis, adalah penemuan spektakuler," kata Nyffeler seperti dikutip dari Science Alert pada Senin (10/7/2017).

Setidaknya berdasarkan laporan observasi yang telah diterbitkan Januari tahun 2006, perilaku makan belalang sembah cukup mengerikan, terutama ketika diketahui belalang sembah makan mangsa burung hidup-hidup.

"Modus operandi belalang sembah tampaknya dengan mendekati burung, yang selalu tergantung ke bawah, lalu masuk ke rongga tengkorak melalui salah satu mata, lantas memakan jaringan otak," tulis José Luis Copete dalam laporannya.

Serangan yang dapat berujung pada terpenggalnya kepala itu dapat dilakukan berkat kaki depan belalang sembah yang cukup kuat. Kaki depannya juga digunakan untuk melumpuhkan korban.

"Mereka hanya menahan (mangsa mereka), dan mereka memakannya saat mereka masih hidup, perlahan dan perlahan sampai tidak ada yang tersisa. Ini sangat mengesankan," kata ahli ekologi forensik Dietrich Mebs, pensiunan Universitas Frankfurt, Jerman, yang tidak terlibat dalam studi tersebut.

Halaman:



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.