Kompas.com - 10/07/2017, 16:07 WIB
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Pertanyaan tentang mengapa orang yang lebih cerdas menjadi ateis sebenarnya sudah muncul sejak zaman Romawi dan Yunani Kuno. Hubungan antara kecerdasan dan agama dapat dijelaskan jika agama dianggap sebagai naluri, dan kecerdasan merupakan kemampuan seseorang dalam melampaui naluri.

Inilah usul dari Edward Dutton dari Ulster Institute for Social Research di Inggris, dan Dimitri Van der Linden dari Rotterdam University di Belanda, dalam sebuah artikel di Evolutionary Psychological Science jurnal Springer.

Kedua penulis ini mengusulkan adanya Model Asosiasi Ketidakcocokan-Kecerdasan. Model ini mencoba menjelaskan mengapa bukti sejarah dan data survei terbaru di berbagai negara dan antarkelompok mendukung adanya sifat yang berbanding terbalik antara kecerdasan dan agama.

(Baca juga: Inilah Jenis Olahraga Terbaik untuk Otak Anda)

Model tersebut didasarkan pada gagasan mengenai prinsip Savana-IQ milik psikolog evolusioner, Satoshi Kanazawa. Menurutnya, perilaku manusia akan selalu berlabuh di lingkungan dimana nenek moyang mereka berkembang.

Dutton dan Van der Linden berpendapat bahwa agama harus dianggap sebagai suatu naluri atau domain berkembang yang terpisah.

Sementara itu, kecerdasan memungkinkan manusia untuk melampaui naluri mereka. Kemampuan melampaui naluri sangat menguntungkan, karena dapat membantu manusia dalam memecahkan masalah.

"Jika agama adalah domain yang berkembang, maka itu adalah naluri, dan kecerdasan—dalam memecahkan masalah secara rasional—dapat dipahami sebagai kemampuan mengatasi naluri dan merupakan sifat penasaran yang intelektual. Kemampuan itu dapat membuka kemungkinan non-naluriah’, jelas Dutton.

Dalam proposal Model Asosiasi mereka, Dutton dan Van der Linden juga menyelidiki hubungan antara naluri dan stres.

(Baca juga: Tujuh Misteri Otak yang Belum Terpecahkan)

Menurut mereka, naluri manusia cenderung beroperasi ketika stres. Dengan menjadi cerdas, manusia dapat melampaui naluri mereka selama masa-masa penuh tekanan.

"Jika agama memang sebuah domain yang berkembang layaknya naluri, maka akan semakin tinggi pada saat stres. Ketika stres, orang cenderung bertindak secara naluriah. Ada bukti jelas untuk ini,” kata Dutton.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.