Kompas.com - 05/07/2017, 20:29 WIB
Pengeboran untuk sampel beton Romawi di Tuscany, 2003 JP OlesonPengeboran untuk sampel beton Romawi di Tuscany, 2003
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Walau dibangun ribuan tahun yang lalu, arsitektur kuno tidak pernah berhenti mencengangkan dunia modern dengan ketangguhannya. Di Indonesia, misalnya, Borobudur yang selesai dibangun sekitar 825 Masehi masih berdiri dengan gagah di Magelang, Jawa Tengah.

Baru-baru ini, tim peneliti yang dipimpin oleh ahli geologi Marie Jackson dari University of Utah mengungkapkan rahasia tersembunyi dari arsitektur kuno yang dibangun oleh bangsa Roma. Walaupun diterpa air laut selama 2.000 tahun, pelabuhan beton dari peradaban ini masih mampu bertahan hingga sekarang dan justru menjadi semakin kuat.

Jackson menjelaskan bahwa beton modern biasanya dibuat dengan semen portland, sebuah campuran dari pasir silika, batu gamping, tanah liat, kapur dan bahan lainnya yang dilebur bersamaan pada suhu tertentu. Pada beton, adonan tersebut mengikat semua bebatuan secara keseluruhan.

(Baca juga: Aspal dan Beton yang Bisa Sembuhkan Diri, Kok Bisa?)

Namun, keseluruhan bahan itu harus tetap pada posisinya dan tidak berubah sama sekali. Sebab, reaski kimia yang tidak diinginkan dapat menyebabkan beton retak, erosi, dan runtuh.

Sebaliknya, beton Romawi diciptakan dengan abu vulkanik, air kapur dan air laut. Kemungkinan para bangsa Romawi mendapatkan inspirasi tersebut setelah mengamati reaksi kimia dalam deposit abu vulkanik pada batuan tufa. Mereka juga mencampurkan batuan vulkanik yang terus menerus bereaksi dan memperkuat beton hingga sekarang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam sebuah proyek penelitian sebelumnya di bawah pimpinan Jackson, para peneliti telah mengumpulkan sampel beton laut Romawi dari beberapa pelabuhan di sepanjang pantai Italia. Kini, mereka memetakan sampel tersebut menggunakan mikroskop elektron. Setelah itu, dilakukan pemindaian dengan X-ray microdiffraction dan Raman spectroscopy untuk mengidentifikasikan semua butir mineral pada beton.

"Kita bisa masuk ke laboratorium alam kecil pada sebuah beton, memetakan mineral yang ada, suksesi kristal yang terjadi, dan sifat kristalografi mereka. Hasilnya sungguh menakjubkan," kata Jackson seperti dikutip dari Science Alert pada Rabu 4 Juli 2017.

Hasil pemindaian menunjukkan adanya aluminium tobermorite yang melimpah pada beton, sebuah mineral berbasis silika keras yang cukup langka dan sulit dibuat di laboratorium.

Mineral ini, bersama dengan mineral langka lainnya yang disebut phillipsite, tumbuh dalam beton berkat air laut yang mengalir di sekitarnya. Ketika diterpa air laut, abu vulkanik pada beton menghilang dan menyisakan ruang untuk mengembangkan struktur yang diperkuat dengan kedua mineral di atas.

"Bangsa Romawi menciptakan beton mirip batu yang tumbuh subur dalam pertukaran kimia terbuka dengan air laut," kata Jackson.

Sayangnya, resep untuk menciptakan bangunan seperti itu telah hilang dimakan waktu. Para ilmuwan hanya dapat menciptakan kembali bahan-bahan yang digunakan dengan meneliti bangunan yang masih ada.

Namun, tidak semua negara dapat mengakses bahan vulkanik yang digunakan dalam beton ini. "Orang Romawi beruntung dapat memiliki batu-batu ini. Kita tidak memiliki banyak batu seperti inidi dunia, jadi harus ada substitusi yang dibuat," kata Jackson.

Penelitian Jackson dan koleganya telah dipublikasikan pada American Mineralogist.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Fenomena
Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Oh Begitu
12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

Oh Begitu
Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Oh Begitu
Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Oh Begitu
Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.