Kompas.com - 22/06/2017, 16:05 WIB
Ilustrasi mudik dengan keluarga dan anak carhifiservices.comIlustrasi mudik dengan keluarga dan anak
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com –- Tidak sampai dua minggu lagi, bulan Ramadhan akan berakhir dan jadwal mudik bersama berbagai persiapannya mulai disusun untuk merayakan hari kemenangan bersama keluarga.

Sayangnya, kabar duka tidak jarang terdengar selama menempuh perjalanan mudik. Pada tahun 2016 lalu, misalnya, terjadi kemacetan di tol Brebes Timur yang mengular sejauh 18 km. Dalam kejadian tersebut, 17 orang meninggal dunia akibat kelelahan dan kecelakaan lalu lintas.

Oleh karena itu, berbagai persiapan pun perlu dilakukan pemudik agar selamat sampai di tempat tujuan. Salah satunya dengan menjaga kesehatan agar optimal selama di perjalanan.

(Baca juga: Sahur dengan Nasi, Mi Instan, dan Telur? Jangan Dilakukan Lagi)

Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis Gastroenterologi dan hepatologi dr Hardianto Setiawan, SpPD-KGEH mengatakan, para pemudik harus memperhatikan jumlah makanan yang dikomsumsi pada saat berbuka maupun sahur. Jika memungkinkan, carilah restauran yang memiliki menu empat sehat di dalam perjalanan.

“Waktu makan juga tidak langsung makan makanan utama dalam jumlah besar. Makanan kecil, satu jam kemudian mulai makanan utama,” kata Hardianto pada diskusi bertajuk “Tetap Sehat dan Bugar Saat Berpuasa dan Lebaran” yang terselenggara dengan kerjasama harian Kompas dan Rumah Sakit Siloam, Kebayoran Baru, Rabu (14/6/2017).

Lalu, saat sahur di dalam perjalanan, Hardianto menganjurkan untuk tidak menyantap makanan secara berlebihan. Jika dilakukan, hal itu akan mengakibatkan naiknya gula darah dan membuat rasa kantuk serta lemas datang lebih cepat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Makan dalam jumlah banyak juga tidak dianjurkan bagi pengidap diabetes melitus. Fluktuasi gula darah akan terjadi dengan cepat. Maka, makan dalam porsi kecil dengan frekuensi lebih sering dapat menjadi pilihan. “Makan dalam porsi kecil yang terpisah agar pada waktu makan, fluktuasi kadar gula tidak terlalu tinggi. Ketika sahur, misalnya, makan bisa dua kali,” ucap Hardianto.

(Baca juga: Selama Berpuasa, Hindari 5 Jenis Buah Ini untuk Kesehatan Lambung)

Selain itu, waktu istirahat perlu mendapat perhatian lebih. Memacu tubuh bekerja lebih keras melalui penggunaan minuman berenergi tidaklah dianjurkan.

“Tubuh kita punya alarm, bila kita merasa capek, kita harus merehatkan diri sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan. Tiga atau empat jam kita bisa berhenti untuk rihat. Pengunaan minuman berenergi juga tidak dianjurkan karena hanya stimulan seperti kafein, sebagai gantinya Anda bisa meminum multivitamin,” kata Hardianto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.