Kompas.com - 21/06/2017, 19:00 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Selain anjing, kucing kini menjadi hewan paling akrab dengan manusia. Umat Islam bahkan percaya bahwa kucing merupakan hewan kesayangan Nabi Muhammad SAW.

Siapa sangka, kisah persahabatan manusia dan kucing telah berlangsung selama belasan ribu tahun, bahkan sebelum manusia bisa bertani.

Sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal Nature Ecology and Evolution Senin (19/6/2017) mengungkap, manusia dan kucing bisa akrab karena menguntungkan satu sama lain.

Maria Geigl, ahli genetika evolusi dari Institut Jacques Monod di Paris bersama koleganya menganalisis DNA mitokondria yang terdapat pada sampel tulang dan gigi sekitar 200 kucing purba.

Analisis mengungkap, proses kucing bermigrasi dan berpindah dari alam liar ke lingkungan sekitar manusia terjadi dalam dua gelombang.

Gelombang pertama terjadi di Fertile Crescent, sebuah kawasan subur di Asia Barat. Sementara gelombang kedua terjadi di Mesir.

Di Fertile Crescent, terdapat kucing purba spesies Felis silvestris lybica yang diyakini lebih sudah dijinakkan dibandingkan jenis lainnya.

Pada masa awal pertanian, sekitar 10.000 tahun lalu, manusia mulai menyadari manfaat kucing. Hewan itu bisa digunakan untuk mengendalikan tikus.

"Manusia dan kucing sama-sama untung. Manusia merasa senang dengan berkurangnya hewan pengerat sementara kucing senang karena mendapatkan makanan," ungkap Geigl.

Ketika pertanian berkembang dan manusia bermigrasi ke barat sekitar 7.000 tahun lalu, rupanya kucing juga ikut serta. Ini tanda manusia membiarkannya ikut.

Studi mengungkap bahwa kucing mulai menyebar di Afrika dan Eropa pada 1.700 SM dan meluas dengan cepat antara abad 5 hingga 13.

Ilmuwan menemukan, jejak kucing purba juga ada di pelabuhan Viking di Laut Baltik, Jerman bagian utara. Ini makin memperkuat keyakinan bahwa kucing bermanfaat mengendalikan hama.

"Saat kami melihat pola penyebaran kucing, kami sadar pola ini menceritakan tentang migrasi manusia, jalur perang, jalur dagang, dan jalur pelayaran," kata Geigl.

"Ini pasti karena kucing sangat menarik perhatian manusia sehingga kucing bisa menyebar dengan sangat efisien," ucapnya seperti dikutip Science Alert, Selasa (20/6/2017).

Geigl menuturkan, secara gentik, kucing purba yang liar mirip dengan kucing saat ini meski terdapat sejumlah perbedaam.

Perbedaan diantaranya adalah pola garis yang dimiliki kucing purba. Sementara, kucing saat ini cenderung berwarna polos dan sedikit belang.

Geigl menemukan, perubahan pola itu terkait dengan mutasi DNA saat demestikasi kucing dimulai yang diduga terjadi pada abad pertengahan.

Kisah penyebaran lucing menunjukkan, keakraban manusia dan kucing tak terjadi secara cepat. Walaupun manusia sudah menyadari manfaat kucing sejak lama, baru ratusan tahun lalu manusia memeliharanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.