Kompas.com - 18/06/2017, 04:06 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- European Space Agency (ESA) memperkirakan bahwa pada saat ini, ada sekitar 170 juta keping puing-puing ruang angkasa yang mengorbit bumi. Sampah ruang angkasa yang termasuk satelit yang sudah tidak berfungsi dan benda-benda buatan manusia lainnya meluncur di sekitar atmosfer bumi pada kecepatan delapan kilometer per detik, 10 kali lebih cepat dari peluru.

Sampah-sampah tersebut menimbulkan ancaman besar bagi satelit dan pesawat ruang angkasa lainnya. Sebab, tabrakan dengan sampah ruang angkasa berukuran satu sentimeter saja memiliki kekuatan energi yang setara dengan sebuah granat tangan. Namun, beberapa potongan sampah sama besarnya dengan truk.

Ketika terjadi kecelakaan seperti itu, fragmen-fragmen menjadi semakin tersebar di luar angkasa dan meningkatkan risiko kecelakaan lebih lanjut.

Ancaman ini juga nyaris dialami oleh astronot wanita Jepang kedua, Naoko Yamazaki, ketika berangkat menuju International Space Station (ISS) pada tahun 2010. "Kami menemukan retak kecil di jendela pesawat ruang angkasa. Untungnya, retak yang tidak lebih kecil dari satu inci tersebut tidak mengancam. Namun, jika kita menghantam sampah ruang angkasa yang lebih besar, bencana bisa terjadi," katanya.

Sampah ruang angkasa tidak hanya ancaman bagi penerbangan pesawat ruang angkasa yang berawak, tetapi juga untuk satelit yang akan berdampak pada kehidupan kita sehari-hari. "Satelit memiliki peran penting seperti prakiraan cuaca, komunikasi, dan GPS," terang Yamazaki.

Disitulah peran pembersih sampah ruang angkasa diperlukan.

Perusahaan layanan satelit berbasis di Singapura, Astroscale, telah merekrut tim spesialis "pembersih ruang angkasa" untuk mengembangkan teknologi yang akan menghancurkan puing-puing ruang angkasa dengan memaksa sampah-sampah tersebut turun ke atmosfer dan terbakar.

Pada tahun 2016, perusahaan ini memperoleh dana investasi sebesar 35 juta dolar AS (sekitar Rp 465 miliar) yang sebagian besar berasal dari Innovation Network Corporation of Japan.

"Dari konstruksi sampai peluncuran yang sukses, ini adalah misi yang sangat menantang," kata Miki Ito, Presiden Astroscale, seperti yang dikutip dari CNN, Kamis, (15/6/2017).

Astroscale saat ini tengah mengembangkan dua jenis satelit. Salah satunya adalah satelit mikro yang akan mengumpulkan data real time sampah ruang angkasa yang ukurannya lebih kecil dari satu milimeter. Data tersebut akan digunakan untuk mengembangkan peta puing-puing terbaru yang kemudian bisa digunakan oleh akademisi, badan internasional, dan operator satelit.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.