Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 14/06/2017, 20:06 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Kanker serviks atau leher rahim menjadi penyebab kematian tertinggi pada perempuan dibandingkan jenis kanker lainnya. Disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV), salah satu langkah paling ampuh untuk menghindari penyakit ini adalah dengan melakukan vaksinasi HPV.

Namun, Principal Investigator Stem Cell and Cancer Institute Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Phd, berpendapat bahwa vaksinasi tidak memberikan perlindungan 100 persen terhadap risiko kanker serviks.

(Baca juga: Meski Sudah Setia, Anda Tetap Bisa Terkena HPV Seperti Jupe)

Pada saat ini, terdapat 15 jenis tipe HPV yang berbahaya di dunia dan berdasarkan studi yang dilakukan Ahmad besama koleganya, empat jenis di antaranya yakni HPV tipe 16, 18, 45, dan 52 berada di Indonesia.

Akan tetapi, vaksin yang digunakan yang digunakan oleh pemerintah belum mencakup keempat jenis HPV tersebut, melainkan hanya HPV tipe 16 dan 18. Kedua tipe tersebut memang yang berisiko tinggi.

“Vaksin yang masuk ke Indonesia itu vaksin yang umumnya dilakukan di dunia. Jadi tipe 45 dan 52 belum ter-cover," katanya dalam acara buka bersama PT Kalbe Farma Tbk di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (13/6/2017).

Meski demikian, Ahmad menegaskan bahwa hal ini bukan berarti vaksin tidak berguna. Dia tetap menganjurkan vaksinasi HPV, tetapi masyarakat Indonesia yang sudah divaksin pun harus tetap harus menjaga kebersihan.

Selain itu, efektifitas vaksin menjadi berkurang jika diberikan pada perempuan yang telah melakukan hubungan seksual sebelumnya. Pada kondisi itu, terdapat kemungkinan bahwa HPV telah masuk lebih dulu. “Kalau HPV sudah masuk ke dalam sel, vaksin tidak bisa bantu. Vaksin hanya bisa mencegah jangan sampai HPV masuk ke sel,” ucap Ahmad.

Dia menjelaskan bahwa ketika masih muda, daya tahan tubuh biasanya masih kuat menghalau HPV. Namun, setelah usia 30 tahun, vaksin harus dikombinasikan dengan Pap smear dan tes HPV untuk mencegah infeksi.

“Nah, jadi kalau ada wanita periksa Pap smear, selnya mungkin normal tapi sudah ada virusnya. Kalau ada virus 45, misalnya, dokter pasti akan agresif. Langsung diteropong, dicongkel, diperiksa di laboratorium, dan dibersihkan betul-betul. Kanker serviks itu kalau ketahuan di fase yang sangat dini bisa dibilang 100 persen sembuh,” ujar Ahmad.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+