Kompas.com - 14/06/2017, 16:05 WIB
Anggota TNI AD dari Komando Distrik Militer 1601/Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), sedang melakukan penyemprotan terhadap hama belalang yang menyerang wilayah itu Letnan Kolonel Infanteri Elvin T Saragi for Kompas.comAnggota TNI AD dari Komando Distrik Militer 1601/Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), sedang melakukan penyemprotan terhadap hama belalang yang menyerang wilayah itu
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Serangan belalang kumbara terhadap lahan penduduk di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mulai terjadi sejak dua-tiga minggu lalu dianggap 'tidak separah' serangan sebelumnya.

Hal ini karena serangan hama terjadi pada saat lahan penduduk sudah hampir semua dipanen, kata Gubernur NTT, Frans Belu Raya.

"Kali ini tidak separah waktu lalu. Dan juga bersyukur karena tanaman pangan sudah hampir semua dipanen. Tadi saya dilaporkan angkanya belum jelas tapi ini tengah diproses yah. Dia ada kira-kira dua-tiga minggu terakhir. Sekarang memang menurut laporan dari lapangan, sudah mulai berkurang ," jelasnya.

Belalang kumbara yang terbang dalam bentuk koloni ratusan ekor sehingga mirip awan ini melakukan serangannya dalam siklus 10 tahunan, tambah Gubernur Frans.

Pemerintah NTT menegaskan pihaknya sudah mengerahkan kelompok penanggulangan ke lapangan untuk menyemprotkan pestisida guna mengatasi belalang.

"Membentuk garda penanggulangannya. Juga menyiapkan pestisida untuk penanggulangannya. Garda ini di lapangan akan terus berupaya untuk memberantasnya, dengan tentu pemerintah memberikan insentif dalam bentuk natura untuk mereka yang bekerja di lapangan," jelas Frans Belu Raya.

(Baca juga: Jutaan Belalang "Serang" Bandara Waingapu di Sumba Timur)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dampak pestisida

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan Institut Pertanian Bogor beberapa tahun lalu, serangan hama belalang kumbara ini diketahui terjadi karena pemangsa alamiah mereka sudah berkurang di alam.

Pada Sabtu (10/06) dilaporkan serangan belalang terjadi pada area seluas 2-3 hektare di padang penggembalaan dan sehari kemudian bergeser ke arah timur karena terlihat di atas Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur.

Terkait dengan pengaruh negatif penggunaan pestisida pemberantas hama terhadap lingkungan, Gubernur Frans mengatakan hal tersebut memang tidak bisa dihindari dan mudah diatasi.

"Sudah pasti ada efek, tetapi dalam rangka pemberantasan ini, mau tidak mau kita gunakan. Tentu juga kalau efek menurut saya tidak terlalu berat, tidak terlalu parah untuk lingkungan."

"Kalau ada serangga-serangga yang seharusnya berguna, atau organisme yang seharusnya masih bisa berguna untuk kesuburan lahan dan macam-macamnya, bisa ikut mati juga kan," jelas Gubernur Frans Belu Raya mengakui dampak dari pestisida tersebut.

Artikel ini sudah pernah tayang sebelumnya di BBC Indonesia dengan judul: Belalang Menyerang Sumba Timur Ketika Panen Hampir Usai



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Oh Begitu
Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Kita
Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Oh Begitu
Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Oh Begitu
Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Oh Begitu
Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Oh Begitu
Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Oh Begitu
Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Oh Begitu
6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

Oh Begitu
Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Oh Begitu
Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Oh Begitu
Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Oh Begitu
Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Oh Begitu
Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X