Miris, 105 Tulang Jadi Bukti Kekejian Kota Mesir Kuno Amarna

Kompas.com - 13/06/2017, 12:06 WIB
Lokasi Amarna Mary Shepperson/Courtesy of The Amarna ProjectLokasi Amarna
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com – Pernahkah Anda mendengar mengenai Amarna? Ibu kota Mesir tersebut muncul dan hilang dalam waktu 15 tahun selama masa pemerintahan firaun Akhenaten dan ratu Nefertiti.

Dibangun di sepanjang tepi timur sungai Nil, Akhenaten mempersembahkan kota tersebut untuk dewa matahari ciptaannya, Aten. Namun, setelah Akhenaten meninggal pada tahun 1332 sebelum masehi, agama kuno Mesir dibangkitkan kembali oleh firaun Tutankhamun dan Amarna dilupakan begitu saja.

Kini, sebuah penemuan baru mengungkapkan rahasia mengerikan di balik kota kuno tersebut. Diungkapkan oleh arkeolog Mary Shepperson melalui artikelnya di The Guardian 6 Juni 2017, bukti yang ditemukan menunjukkan bahwa Amarna dibangun menggunakan tenaga dan peluh anak-anak.

(Baca juga: Makam Putri Mesir Ditemukan dalam Piramida Berusia 3800 Tahun)

Penemuan ini dimulai pada tahun 2015 ketika Shepperson bersama anggota tim arkeolog Amarna Project lainnya menggali sebuah kuburan sederhana di belakang kuburan para abdi dalem kerajaan Mesir pada bagian utara Amarna. Makam tersebut sangat sederhana dan tidak menyimpan harta benda sama sekali. Tubuh-tubuh yang dikubur juga hanya dibungkus tikar kasar.

Akan tetapi, yang lebih mengejutkan adalah usia tulang-tulang tersebut ketika meninggal. “Hampir semua tulang yang kita gali belum dewasa sepenuhnya. Mereka masih anak-anak, remaja, atau dewasa muda. Namun, kita tidak menemukan balita atau orang dewasa,” tulis Shepperson.

Para arkeolog kemudian menggambil  tulang 105 individu dari tiga titik pengalian untuk dibawa ke laboratorium dan diperiksa oleh Dr Gretchen Dabbs dari Southern Illinois University.

Ternyata, dugaan awal mereka benar. Makam tersebut digunakan untuk mengubur anak-anak. Shepperson menuturkan, lebih dari 90 persen tulang-tulang tersebut berusia tujuh hingga 25 tahun. Mayoritas bahkan lebih muda dari 15 tahun.

Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang aneh. Usia tujuh hingga 25 tahun merupakan usia yang paling tangguh untuk populasi manusia, bahkan pada era Mesir kuno sekalipun.

Namun, tulang-tulang dari 105 individu tersebut berkata lain. Luka parah menjadi sesuatu yang umum dan 10 persen dari mereka juga sudah mengalami oesteoarthritis di usia muda. Sebanyak 16 persen dari tulang belakang individu yang masih remaja juga ditemukan patah.

Melihat kondisi ini, para arkeolog menkonklusikan bahwa mereka adalah budak anak-anak dan remaja yang dipaksa melakukan pekerjaan berat sejak usia tujuh tahun.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Serba-serbi Hewan: Seperti Manusia, Anjing juga Bermimpi

Serba-serbi Hewan: Seperti Manusia, Anjing juga Bermimpi

Oh Begitu
Hari Ini, Ada Asteroid 1999 RM45 Lewat Dekat Bumi dan Perige Bulan

Hari Ini, Ada Asteroid 1999 RM45 Lewat Dekat Bumi dan Perige Bulan

Oh Begitu
Setahun Pandemi Covid-19, Apa Saja yang Telah Diungkap Ilmuwan?

Setahun Pandemi Covid-19, Apa Saja yang Telah Diungkap Ilmuwan?

Kita
Setahun Pandemi di Indonesia, Apa Saja Penanganan Covid-19 yang Harus Dibenahi?

Setahun Pandemi di Indonesia, Apa Saja Penanganan Covid-19 yang Harus Dibenahi?

Oh Begitu
WHO: Infeksi Covid-19 Global Naik untuk Pertama Kalinya dalam 7 Minggu

WHO: Infeksi Covid-19 Global Naik untuk Pertama Kalinya dalam 7 Minggu

Oh Begitu
Pompeii Masih Bikin Takjub, Kini Ahli Temukan Kereta Kuda Nyaris Utuh

Pompeii Masih Bikin Takjub, Kini Ahli Temukan Kereta Kuda Nyaris Utuh

Fenomena
Setahun Pandemi Virus Corona, Manakah Vaksin Covid-19 Terbaik?

Setahun Pandemi Virus Corona, Manakah Vaksin Covid-19 Terbaik?

Oh Begitu
Kilas Balik Setahun Covid-19 di Indonesia, Pengumuman hingga Vaksinasi

Kilas Balik Setahun Covid-19 di Indonesia, Pengumuman hingga Vaksinasi

Oh Begitu
Hari Tanpa Bayangan Sepanjang Maret 2021, Begini Dampaknya bagi Indonesia

Hari Tanpa Bayangan Sepanjang Maret 2021, Begini Dampaknya bagi Indonesia

Fenomena
[POPULER SAINS] Arti Covid-19 Jadi Endemik | Dampak Klaster Perkantoran pada Keluarga

[POPULER SAINS] Arti Covid-19 Jadi Endemik | Dampak Klaster Perkantoran pada Keluarga

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi 4 Meter, Ini Daftar Wilayahnya

Peringatan Dini Gelombang Tinggi 4 Meter, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Kuburan Peliharaan Tertua di Dunia Ada di Mesir, Ada 600 Kerangka Kucing dan Anjing

Kuburan Peliharaan Tertua di Dunia Ada di Mesir, Ada 600 Kerangka Kucing dan Anjing

Fenomena
Mulai Malam Ini, Konjungsi Mars-Pleiades dan Merkurius-Jupiter-Saturnus Ada di Langit Indonesia

Mulai Malam Ini, Konjungsi Mars-Pleiades dan Merkurius-Jupiter-Saturnus Ada di Langit Indonesia

Fenomena
Fenomena Langit Maret 2021: Ada Konjungsi Bulan, Mars, Aldebaran

Fenomena Langit Maret 2021: Ada Konjungsi Bulan, Mars, Aldebaran

Fenomena
Bagaimana Kulit Kita Menutup Luka dan Membentuk Keropeng?

Bagaimana Kulit Kita Menutup Luka dan Membentuk Keropeng?

Prof Cilik
komentar di artikel lainnya
Close Ads X