Kompas.com - 08/06/2017, 19:06 WIB
Keindahan ekosistem terumbu karang yang terancam KOMPAS.COM/Alek KurniawanKeindahan ekosistem terumbu karang yang terancam
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

Selain itu, nelayan pengembara juga ikut menyumbangkan kerusakan karang. Suharsono bercerita bahwa nelayan pengembara akan menghabiskan sumber daya yang ada di suatu tempat dan kembali ke tempat semula sekitar tiga sampai bulan kemudian. Di Indonesia, nelayan pengembara di antaranya adalah nelayan Madura, Bugis, Buton, dan Bajo.

Lalu, ulah manusia lainnya yang merusak karang adalah dengan perdangangan ilegal, dari nelayan dan pengepul yang tidak memiliki izin mengambil karang hingga eksportir nakal dalam roda putaran penjualan karang ilegal.

(Baca juga: Lestarikan Dugong untuk Lamun dan Manusia)

Suharsono menuturkan, perdagangan karang ilegal dapat berjalan dengan baik karena tingginya harga karang. Untuk karang seukuran genggaman tangan manusa dewasa, karang dihargai hingga 100 dolar AS. Oleh sebab itu, dia pun menyesalkan perlakuan pemerintah asing seperti China dan Hong Kong yang menerima masuknya karang ilegal dari Indonesia.

Sebaliknya, negara maju seperti Eropa, Amerika, dan Jepang mau bekerja sama dengan menolak datangnya karang ilegal.

"Saya pernah ngobrol dengan otoritas Hong Kong. Tolong dong kan sudah ilegal jangan mau menerima. Jawabannya apa? 'Itu kan persoalan negara kamu. Kenapa kamu tidak bisa mengawasi, sampai sini ya saya terima.' Kalau dengan negara maju ditolak. Itu bahaya kan. Kalau terus-menerus ya habis juga,” ujar Suharsono.

Peneliti senior LIPI ini menilai, bila dimanfaatkan dengan baik, karang dapat menghasilkan devisa besar bagi Indonesia melalui perdagangan karang dan pariwisata.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebab, bila dibudidayakan dengan benar, karang termasuk makhluk laut yang paling ramah. Karang tidak perlu diberi makan atau pun diberi vitamin tertentu dan dalam enam bulan, hasil transplatasi sudah bisa dipanen. Dari 569 jenis, 69 jenis karang bisa dikembangkan dengan transplantasi dan bila ingin menjalani bisnis micro aquarium, karang sudah bisa dipanen selama 3 bulan.

”Untuk wisata juga berjalan. Di Indonesia paling banyak ada di Bali dan Banyuwangi. Tapi beda dengan yang di Pulau Menjangan, itu jadi contoh kerusakan karang karena pariwisata,” kata Suharsono.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.