Kompas.com - 02/06/2017, 12:05 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Selama bertahun-tahun lamanya, para peneliti telah mengetahui bahwa sperma manusia memiliki buntut unik bernama flagelum yang membantu mereka untuk berenang.

Namun, sebuah studi terbaru dalam Journal of The Royal Society Interface mengungkapkan bahwa buntut ini ternyata dapat berbelok dan berenang sendiri tanpa mengikuti arah kepala.

Melanjutkan dari penemuan 50 tahun yang lalu bahwa flagelum terdiri dari sistem filamen kompleks yang dihubungkan dengan pir elastis, para peneliti menemukan bahwa pir tersebut tidak hanya berfungsi untuk memberikan bentuk silinder pada flagelum, tetapi juga untuk menyampaikan informasi dari satu titik ke titik lainnya.

Penulis studi tersebut, Hermes Gadelha yang juga seorang ahli biologis matematis di University of York Britania Raya, mengatakan, flagelum sperma memiliki struktur internal yang dapat ditemukan dalam semua bentuk kehidupan. Namun, menariknya struktur internal pada buntut sperma dapat menciptakan gerakan yang berbeda-beda untuk masing-masing spesies.

(Baca juga: Tikus dari "Sperma Antariksa" Lahir, Apakah Era Star Trek Sudah Tiba?)

Untuk mempelajari mekanisme gerakan buntut pada sperma manusia, para peneliti menginvestigasi dan menggerakan sperma yang sudah meninggal. Ternyata, masing-masing bagian pada buntut berbelok sendiri.

Lalu, ujung buntut akan selalu melawan arah gerakan kepala. Gerakan tersebut disebut dengan fenomena counterbend dan menunjukkan bahwa informasi mekanis dikirimkan melalui fiber elastis yang saling berhubungan pada buntut sperma.

Gadelha lalu menggunakan sebuah rumus matematika untuk mengalkulasikan gerakan menekuk pada sperma manusia.

Dilansir dari Live Science 1 Mei 2017, dia menyamakan komunikasi pada buntut sperma dengan komunikasi di antara pendayung kapal sampan yang matanya ditutup.

“Pendayung yang matanya ditutup tidak dapat melihat pendayung lain untuk mengomunikasikan gerakan yang harus dilakukan. Lalu, tanpa adanya teriakan satu sama lain, mereka harus merasakan mekanisme kapal dan gerakan yang dilakukan oleh pendayung lain untuk mengikuti,” ujarnya.

“Motor molekuler pada sel sperma juga memiliki komunikasi serupa, tetapi dengan kapal yang jauh lebih kompleks,” tambah Gadelha lagi.

Diuraikan dalam studi tersebut, buntut sperma menciptakan gerakan bergeser di antara filamen yang berada di dalam struktur silinder. Gerakan ini membuat buntut berbelok seperti piston yang mengubah gerakan maju-mundur menjadi rotasi roda pada kereta.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X