Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Pola Berpikir Teroris untuk Pertama Kalinya

Kompas.com - 29/05/2017, 19:28 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com - Sebuah proyek penelitian menarik berhasil mengungkap pola pikir teroris untuk pertama kalinya.

Tim peneliti dari Amerika Serikat, Kolombia, dan Chile berhasil mengungkap cara teroris membuat judgemnet atas tindakan seseorang.

Mereka meneliti 66 orang teroris yang menjadi narapidana di Kolombia, salah satu negara dengan tingkat pemberontakan tertinggi di dunia.

Baca juga: Lecehkan Sejumlah Mahasiswi, Guru Besar UGM Dipecat sebagai Dosen

Sejumlah 66 orang itu terlibat sejumlah aksi pembunuhan yang merenggut ratusan nyawa. Untuk bisa melakukan studi itu, peneliti butuh waktu 4 tahun hanya untuk melobi pihak keamanan.

Dalam riset, peneliti menyajikan sejumlah skenario mulai dari bahaya yang disengaja dan tidak. Peneliti lantas meminta teroris untuk memutuskan apakah tindakan dalam skenario itu bisa ditoleransi.

Agustin Ibanez dari Favaloro University di Buenos Aires mengatakan, "Respon umumnya, bahaya yang dirancang seharusnya lebih diwaspadai daripada yang tiba-tiba. Tapi pada teroris berbeda."

Baca juga: Kapolri Minta Maaf Ajudannya Pukul Jurnalis di Semarang, Janji Telusuri Pelaku

Menurut riset, teroris menilai sebuah tindakan berdasarkan hasilnya, bukan menurut motivasi melakukan tindakan tersebut.

Peneliti mengharapkan, riset ini berguna bagi pihak berwenang untuk mengembangkan profil guna tujuan forensik maupun penegakan hukum.

Namun, studi lebih lanjut dibutuhkan sebab sampel teroris dalam penelitian ini masih terbatas. Setiap kmotif dan bentuk kejahatan terorisme punya karakter berbeda pula.

Baca juga: Dewi Yull Ungkap Satu Pesan pada Anak-anaknya agar Tak Membenci Ray Sahetapy Usai Bercerai

"Misalnya, dalam populasi yang kami pelajari, agama bukan faktor relevan. Bahkan mereka yang bergabung dengan para militer biasanya didasari atas motif ekonomi," kata Ibanez seperti dikutip BBC, (29/5/2017).

Ibanez mengajak ahli psikologi forensik untuk mengembangkan penilaian seperti yang dilakukannya untuk mengukur agresi, emosi, dan kognisi.

Sheena Fazel, psikiatri yang fokus pada penyakit mental dan tindakan kriminal mengatakan, studi ini adalah sebuah langkah maju.

"Saya sangat tertarik dengan faktor-faktor yang dapat diidentifikasi dan dimodifikasi sehingga dapat membuat orang berhenti melakukan tindakan kekerasan. Itu akan jadi riset yang sangat bermanfaat," kata Fazel

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE



Video Pilihan Video Lainnya >

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau