Apa yang Harus Kita Pelajari dari Gempa Yogyakarta 11 Tahun yang Lalu?

Kompas.com - 27/05/2017, 21:06 WIB
Poster pemain sepak bola yang langsung dipasang di pohon, serta karung bekas yang kembali dikumpulkan untuk alas tidur. Di Dusun Bondalem, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul, ini hampir semua rumah telah rata tanah akibat gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006. KOMPAS.com/AMIR SODIKINPoster pemain sepak bola yang langsung dipasang di pohon, serta karung bekas yang kembali dikumpulkan untuk alas tidur. Di Dusun Bondalem, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul, ini hampir semua rumah telah rata tanah akibat gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Sebelas tahun yang lalu, tepat pada hari ini, gempa paling mematikan dalam sejarah pulau Jawa menggoncangkan Yogyakarta.

Walaupun hanya terjadi selama 57 detik, gempa bermagnitudo 6,5 ritcher tersebut memakan 5.800 korban jiwa, melukai 20.000 orang lainnya, dan memporakporandakan rumah-rumah penduduk, fasilitas umum, dan bangunan bersejarah.

Para ahli meyakini bahwa gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar Opak yang memanjang dari Bantul hinga Prambanan dan melewati wilayah pemukiman warga. Dikombinasikan dengan lokasi, karakteristik tanah, dan kualitas bangunan, dampak dari gempa Yogyakarta menjadi sedemikian besar.

Dilansir dari Kompas.com 3 Juli 2017, pakar gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja, berkata bahwa gempa Yogyakarta sangat merusak karena sesar yang aktif ada di bawah kawasan permukiman penduduk.

"Di Yogyakarta, karakteristik tanahnya juga merupakan endapan vulkanik yang rapuh sehingga mengamplifikasi gempa. Ditambah dengan bangunan di Yogyakarta yang sangat buruk saat itu maka wajar kalau gempa saat itu sangat merusak," ungkap Danny.

Namun, rupanya gempa tersebut masih belum dapat meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya mitigasi gempa.

Menurut Kepala Badan Geologi, Surono, mitigasi bencana masih belum menjadi fokus warga ketika membangun rumah. Dia mengatakan, mitigasi belum dianggap sebagai modal dan masyarakat masih enggan membangun rumah tahan gempa.

Padahal, Indonesia dikenal langganan gempa. Untuk itu, Danny pun menghimbau Indonesia untuk lebih serius memetakan dengan rinci sumber-sumber gempa.

Dia berkata bahwa pemetaan sesar daratan perlu dilakukan sehingga pemerintah daerah memiliki dasar untuk merencanakan tata ruang dengan memperhitungkan risiko gempa. Selain itu, penduduk yang sudah terlanjur tinggal di sekitar sesar aktif juga perlu diedukasi agar mereka siap menghadapi gempa.

Pakar gempa dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, juga sependapat. Dia mengatakan, audit infrastruktur dan bangunan tahan gempa juga harus dilakukan. Sejauh ini kita belum menerapkan standar bangunan tahan gempa dengan baik. Rumah-rumah yang telanjur dibangun tanpa memperhitungkan aspek gempa harus diperkuat.

(Baca juga: 10 Tahun Gempa Yogyakarta)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X