Kompas.com - 26/05/2017, 19:30 WIB
Hilal Akhir Syaban diamati dari Yogyakarta pada Kamis (25/5/2017). Mutoha ArkanuddinHilal Akhir Syaban diamati dari Yogyakarta pada Kamis (25/5/2017).
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Menjelang bulan Ramadan, istilah hilal sering terdengar. Biasanya, kita mengartikan hilal sebagai bulan sabit tipis penanda awal bulan dalam kalender Islam.

Namun, ternyata ada dua jenis hilal. Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), mengungkapkan, ada hilal tua dan ada hilal muda.

Dua fenomena hilal itu menunjukkan perjalanan fase bulan, mulai dari bulan baru, sabit, separuh, purnama, hingga bulan mati.

Lantas, apa perbedaannya? Thomas mengatakan hilal tua menjadi tanda akhir bulan sementara hilal muda tanda awal bulan.

Dalam konteks menjelang Ramadhan 2017, hilal tua terjadi pada Kamis (25/5/2017) menjelang matahari terbit.

"Kamis itu masih terlihat bulan sabit hingga menjelang matahari terbit," kata Thomas saat dihubungi, Jumat (26/5/2017).

Setelah hilal atau bulan tua, datanglah bulan mati. Bulan mati terbaru terjadi pada Kamis (25/5/2017) malam kemarin.

Saat itu, tidak ada bulan terlihat sejak maghrib atau pukul 18.25 WIB hingga menjelang matahari terbit.

Hilal muda akan datang setelah bulan mati. Dalam konteks awal bulan puasa kali ini, hilal muda tampak sejak Jumat dini hari.

Jumat dini hari, hilal masih sangat tipis sehingga sulit diamati. Penentuan awal bulan dalam kalender Islam mensyaratkan adanya rukyat atau pengamatan langsung.

Oleh karena itu, penentuan awal bulan biasanya dilakukan dengan menggunakan hilal yang teramati saat senja.

Observatorium Bosscha Hilal penanda awal Ramadhan 2017
Selain menjadi penanda dua hal berbeda, hilal tua dan muda juga berbeda karena lengkungannya.

Peneliti LAPAN Muhammad Zamzam Nurzaman mengatakan, dari bentuknya, lengkungan hilal tua berada di atas. Sementara hilal muda, berada sebaliknya.

"Hilal muda mengarah ke bawah lengkungannya," kata Nurzaman. Saat ini, Nurzaman tengah melakukan pengamatan hilal di Tanjung Lesung, Banten.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Olahraga saat Puasa Bantu Turunkan Berat Badan, Kapan Waktu yang Tepat?

Olahraga saat Puasa Bantu Turunkan Berat Badan, Kapan Waktu yang Tepat?

Kita
8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

Kita
Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X