Kompas.com - 26/05/2017, 14:17 WIB
Lengkungan sabit Bulan yang teramati dari Kupang (NTT) pada Selasa 9 Juli 2013 pukul 18:09 WITA, 18 menit sebelum Bulan terbenam dan 32 menit pasca Matahari terbenam, dalam rukyat konfirmasi yang dilakukan tim Kominfo dan Kemenag dari Menara Hilal Sulamu. 
 
Sumber : Kominfo, 2013.Lengkungan sabit Bulan yang teramati dari Kupang (NTT) pada Selasa 9 Juli 2013 pukul 18:09 WITA, 18 menit sebelum Bulan terbenam dan 32 menit pasca Matahari terbenam, dalam rukyat konfirmasi yang dilakukan tim Kominfo dan Kemenag dari Menara Hilal Sulamu.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Ramadhan sebentar lagi akan tiba. Hilal - bulan sabit tipis yang jadi acuan penentuan awal bulan dalam kalender Islam - akan menjadi penanda mulainya Ramadhan.

Sejumlah kalangan biasa menggelar pengamatan hilal dengan teleskop dari sejumlah daerah. Namun sebenarnya, bisakah hilal diamati dengan mata telanjang?

 

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan, terdapat beberapa persyaratan umum agar hilal dapat terlihat.

Pertama, posisi elongasi atau jarak bulan dan matahari minimal 6,4 derajat. Saat ini jarak tersebut telah berada di posisi 9 derajat yang memungkinkan hilal terlihag cukup tebal.

"Kedua, ketinggiannya minimal 3 derajat. Nah pada saat magrib nanti ketinggian sudah 8 derajat, jadi sudah cukup tinggi. Jadi berdasarkan kriteria visibilitas hilal ini mungkin untuk bisa dilihat dengan mata telanjang," kata Thomas saat dihubungi, Jumat (26/5/2017).

Meski demikian, hilal akan terlihat sangat redup. Cahaya senja juga menjadi salah satu faktor pengganggu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Agar lebih jelas melihat hilal, Thomas menyarankan untuk menggunakan teleskop.

Beberapa teleskop telah dilengkapi dengan sistem komputerisasi. Dengan memasukkan posisi bulan, teleskop akan mengikuti jalannya bulan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat pengamatan hilal. Pilihlah tempat tanpa penghalang arah pandang ke barat.

Kemudian, ikuti arah terbenamnya matahari. Titik terbenanmnya matahari menjadi acuan untuk mencari hilal. Sebab posisi hilal tidak jauh dari titik terbenamnya matahari.

"Ufuknya bisa terlihat dengan jelas, tidak terhalang oleh pepohonan, atau gedung. Untuk hilal awal Ramadhan, posisinya kira-kira di sebelah kiri atas posisi matahari terbenam," ucap Thomas.

Thomas menuturkan, LAPAN memiliki enam titik pengamat hilal di Indonesia. Antara lain di LAPAN Pasuruan mengamati hilal bersama Kementerian Agama dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan tim pengamat hilal.

Tempat lain adalah di Yogyakarta. Hilal diamati bersama ormas Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, BMKG, dan beberapa komunitas astronomi.

"Ada juga di Pontiananak bersama Kemenag, BMKG, dan komunitas astronomi. Ada di Padang, dan Tanjung Lesung. Umumnya di daerah pantai karena ufuk baratnya tidak terhalang," ujar Thomas.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X