Terungkap, Inilah yang Membuat Orang Sherpa Bisa Takhlukkan Himalaya

Kompas.com - 24/05/2017, 20:09 WIB
Sherpa di Everest DISCOVERY CHANNELSherpa di Everest
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Misteri cara orang-orang Sherpa bertahan hidup di cuaca ekstrem pegunungan Himayala akhirnya terungkap.

Sherpa kebanyakan berprofesi sebagai pemandu gunung Everest. Selama ini peneliti bertanya- tanya, bagaimana para pendaki gunung ini bisa begitu tangkas membantu pendaki puncak Everest yang terkenal sulit ditakhlukkan.

Medan yang berat serta cuaca ektrem membuat kebanyakan orang akan mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen serta penyakit ketinggian yang sangat menganggu saat mendaki gunung Everest. Tetapi hebatnya sherpa bisa bertahan.

Sebuah studi yang dilakukan peneliti Universitas Cambridge Inggris berhasil mengungkap, Sherpa ternyata lebih efisien dalam menggunakan oksigen. Ini membuat mereka lebih tangguh dibandingkan orang-orang yang berasal dari dataran rendah.

"Sherpa telah menghabiskan ribuan tahun tinggal di tempat yang tinggi. Jadi tidak mengherankan jika mereka bisa beradaptasi jadi lebih efisien dalam menggunakan oksigen dan menghasilkan energi," kata Andrew Murray ahli fisiologi Universitas Cambridge Inggris seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (23/5/2017).

"Saat kita yang berasal dari dataran rendah menghabiskan waktu di ketinggian, badan kita akan beradaptasi seperti Sherpa, tapi kita tidak bisa menyamai efisiensi mereka," lanjutnya.

Penelitian yang disebut dengan Xtreme Everest 2 ini melibatkan dua kelompok yang terdiri dari 10 orang Eropa dan 15 orang Sherpa. Mereka diminta melakukan pendakian ke base camp Everest yang terletak di ketinggian 5.300 meter.

Murray dan timnya mempelajari fisiologi dengan melakukan analisis darah dan otot sebelum dan sesudah pendakian.

Pengukuran menunjukkan, pada ketinggian dasar, mitokondria Sherpa lebih efisien menghasilkan senyawa adenosin trifosfat (ATP) yang memungkinkan transfer energi ke dalam sel.

Selain itu, orang Sherpa punya kadar oksigen lemak yang lebih rendah, menunjukkan bahwa mereka lebih banyak menghasilkan energi dari gula bukan dari lemak.

"Lemak adalah bahan bakar yang hebat, tapi masalahnya lemak lebih banyak mengambil oksigen dibandingkan glukosa,"  jelas Murray.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X