Perhatian untuk Semua, Tidak Mungkin Jadi Gemuk Sekaligus Sehat

Kompas.com - 19/05/2017, 20:55 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Tidak mungkin menjadi gemuk sekaligus sehat. Kegemukan pasti akan meningkatkan risiko penyakit.

Demikian hasil studi yang disampaikan di European Congress on Obesity bulan ini.

Studi ini bukan untuk mendiskriminasi orang yang mengalami kegemukan tetapi menjadi panggilan bagi orang tersebut, sekaligus tenaga medis, pakar gizi, dan lainnya untuk sadar.

Peneliti dari University of Birmingham adalah yang melakukan studi itu. Mereka melihat data pasien dari tahun 1995 - 2015 untuk mengofirmasi mitos "gemuk tapi sehat".

Pasien yang diteliti adalah mereka yang memilki indeks massa tubuh 30 atau lebih dan tidak punya sejarah penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggu, dan diabetes.

Studi menemukan, pasiesn yang diteliti berisiko lebih tinggi terkena sekarang jantung, stroke, dan gagal jantung dibanding orang normal.

Mike Krapton dari British Hearth Foundation menanggapi studi mengatakan, "Tak jarang riset dalam skala dan magnitudo tersebut mampu mengklarifikasi mitos tua."

"Temuan ini harus ditanggapi sangat serius dan saya mendorong para profesional kesehatan bergerak," jelas Krapton seperti dikutip BBC, Rabu (17/5/2017).

Mike menambahkan, "Sebelumnya kita selalu berpikir bahwa kelebihan berat badan memicu penyakit jantung dan stroke karena meningkatkan tekanan darah dan kolesterol."

"Yang baru dari studi ini bagi saya adalah menunjukkan bahwa orang yang kelebihan berat badan atau obesitas tetap berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung walaupun mereka tampak sehat," jelasnya.

"Tricky"

Studi ini belum dipublikasikan di jurnal ilmiah sehingga masih perlu diuji kesahihannya. Selain itu, studi juga belum melihat faktor diet, gaya hidup, dan kebiasaan merokok karena sulit untuk diperhitungkan.

Tak semua studi menyimpulkan bahwa orang dengan kegemukan punya risiko penyakit lebih tinggi. Studi yang dirilis di European Heart Journal tahun 2012 menyatakan orang bisa gemuk sekaligus sehat.

Namun, penelitian tentang pengaruh kegemukan pada kesehatan selalu "tricky" mengingat sulitnya menentukan parameter untuk mengukurnya.

Tom Sanders, profesor diet dan nutrisi dari King's College London menuturkan, kelemahan dari studi yang dilakukan University of Birmingham adalah langsung menggunakan tekanan darah dan kolesterol sebagai parameter.

Ia mengatakan, penggunaan parameter itu terlalu menyederhanakan.

Studi lain mengungkap, kegemukan bisa berdampak buruk jika lemak terkonsentrasi di wilayah tertentu tubuh, misalnya perut. Di sisi lain, agak sulit mengatur tubuh dalam menyebarkan lemaknya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.