Remaja AS Mati karena Kopi dan Minuman Energi, Ini Pelajaran buat Kita

Kompas.com - 17/05/2017, 18:32 WIB
Ilustrasi Kopi. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO KRISTIANTO PURNOMOIlustrasi Kopi. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Seorang remaja Amerika Serikat, David Cripe, tiba-tiba pingsan di kelasnya pada siang 26 April 2017 lalu. Rekannya membawanya ke rumah sakit namun pada pukul 3.30 waktu setempat, tepat saat bel sekolah berbunyi, dia dinyatakan meninggal dunia.

Penuturan Gary Watts, pejabat setempat yang menyelidiki kematian Cripe, mengejutkan. Cripe tidak mati karena overdosis narkoba, juga bukan karena penyakit akut. Dia mati karena cafe latte, minuman bersoda, dan minuman berenergi.

Dalam rentang waktu dua jam, David meminum cafe latte dari McDonalds, minuman soda Mountain Dew, dan minuman berenergi ukuran 16 ounce. Sebab kematian Davis dinyatakan sebagai "gagal jantung yang dipicu oleh arrhythmia."

Apa iya kafein bisa membunuh? Watts kepada Washington Post, Selasa (16/5/2017), mengatakan, "Saya tidak bilang bahwa Anda akan mati karena minuman berenergi. Ini bukan soal kafein pada sistemnya, tetapi jumlah kafein yang ditenggaknya dalam waktu yang pendek yang kemudian memengaruhi kerja jantungnya."

Kasus David, walaupun terjadi di negeri seberang, bisa menjadi pelajaran bagi kita di Indonesia. Apalagi, kegemaran warga Indonesia akan kopi, teh, minuman berenergi serta banyak minuman berkafein lainnya sedang meningkat.

Dokumen Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap, kafein memiliki efek berbeda pada tiap individu. Ada individu yang tahan terhadap dosis kafein tinggi, ada yang tidak. Karenanya, ada kasus orang berdebar-debar hanya karena minum setengah cangkir kopi.

Kafein akan diolah tubuh menjadi tiga senyawa dimetilxantin. Tiga jenis itu adalah paraxanthine yang menyebabkan energi tubuh seseorang meningkat setelah minum kafein, theobromine yang meningkatkan dilatasi pembuluh darah dan meningkatkan volume urine, dan teofilin yang melemaskan otot-otot polos bronki.

Waktu paruh (rentang waktu yang dibutuhkan untuk meluruhkan 50 persen) kafein adalah 4,9 jam. Pada wanita hamil, waktu paruhnya meningkat menjadi 9-11 jam. Pada wanita yang mengonsumsi pil KB waktu paruhnya adalah 5-10 jam.

Pada bayi dan remaja, waktu paruh kafein lebih lama dibanding orang dewasa sementara pada bayi yang baru lahir mencapai 30 jam. Kafein dapat terakumulasi berlebihan dapat memicu kerusakan hati yang berat, waktu paruhnya meningkat hingga 96 jam.

Metabolisme kafein juga dipengaruhi oleh genetik. Individu yang punya tipe enzim isozim tertentu bisa memetabolisme secara cepat sehingga kafein bisa segera dimanfaatkan. Sementara, individu dengan isozim tipe lainnya cenderung punya metabolisme yang lambat. Jadi, kafein cenderung terakumulasi dan berefek negatif.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Prof Cilik
Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X