Kenali Gejala-gejala Hipertensi Paru pada Anak

Kompas.com - 05/05/2017, 09:07 WIB
Ilustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Tekanan darah yang melebihi batas normal akan merusak organ-organ penting di tubuh manusia. Salah satunya adalah hipertensi paru atau hipertensi pulmonal yang menyerang paru-paru.

Berbeda dengan hipertensi yang pada umumnya hanya membutuhkan tensi meter untuk dideteksi, hipertensi paru lebih sulit untuk dikenali.

"Kalau di paru, tekanan darahnya rendah, (sekitar) 25/18 milimeter merkuri (mmHg)," kata pakar hipertensi paru dan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Prof, Dr, dr Bambang Budi Siswanto, SpJP(K), FAsCC, FAPSC, FACC di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu (4/5/2017).

Untuk itu, diperlukan echocardiogram atau alat perekam denyut jantung untuk mendeteksi hipertensi paru.

(Baca juga: Gampang Dideteksi tetapi Sering Diabaikan, Inilah Realita Hipertensi)

Bambang mengatakan, salah satu penyebab hipertensi paru adalah penyakit jantung bawaan.

Untuk kategori ini, Bambang memaparkan beberapa gejala yang dapat diamati oleh orang tua terhadap anaknya.

Pertama, ketika ibu menyusui bayinya, bayi akan mudah lelah. "Waktu bayi, istilahnya feeding difficulty, menyusui dari ibunya, tapi si bayi mudah lelah. Nangis, rewel, habis menyusui, capek, nangis lagi," ucap Bambang.

Berikutnya, anak pengidap penyakit jantung bawaan akan mengalami kesulitan dalam pertumbuhan. Ukuran tubuh anak akan lebih kecil dibandingkan anak lainnya yang tidak memiliki penyakit bawaan.

Lalu, batuk dan influenza pada anak juga tidak bisa dianggap sepele. Terlalu sering batuk dan influenza dapat menjadi gejala hipertensi paru.

"Bayi yang sering batuk dan pilek bisa di rontgen. Susahnya kalau batuk pilek itu dianggap biasa. Apalagi di kampung enggak ada dokter dan rontgen, jadi ketahuannya telat," ucap Bambang.

(Baca juga: Batas Angka Hipertensi Turun Terus, Ini Alasannya)

Oleh karena itu, Bambang pun berharap agar dokter umum dan bidan dapat melakukan deteksi dini pada anak dengan rekam jejak pengidap jantung bawaan, misalnya dengan menggunakan stetoskop atau echocardiogram.

Jika telah ditemukan gejala sejak dini, penyakit hipertensi paru dapat dihindari dan kualitas hidup anak akan menjadi lebih baik.

"Misalnya ada bolong, lubang pemisah antara darah bersih dan darah kotor. Nah, itu harus cepat ditutup dengan operasi. Masalahnya biaya operasi mahal," ujarnya.

Walaupun demikian, Bambang menilai biaya operasi relatif murah dibandingkan jika anak telah terkena hipertensi paru. Sebab, pengidap hipertensi paru akan mengonsumsi obat sepanjang hayat.

(Baca juga: Flu? Jangan Sembarang Beli Obat, Risiko Hipertensi Bisa Meningkat)

Selain itu, Bambang juga berharap agar pemerintah dapat menyediakan bantuan operasi untuk mencegah terjadinya hipertensi paru.

Saat ini, dengan menggunakan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), pengidap jantung bawaan menunggu dua tahun untuk dioperasi.

"Pasien yang mau operasi dengan jantung bawaan menunggu dua tahun karena fasilitasnya enggak ada. Ketersediaan alat untuk masyarakat yang mau operasi sangat minim sehingga harus menunggu dua tahun atau keburu meninggal," katanya.



EditorShierine Wangsa Wibawa

Close Ads X