Kompas.com - 27/03/2017, 21:09 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Beo Kea memiliki perilaku yang jarang ditemui pada hewan. Burung asli Selandia Baru ini tahu benar cara membahagiakan beo lain.

Kicauan beo ini merupakan tanda "panggilan bermain", merangsang sesamanya untuk ikut melakukan permainan seperti akrobat udara ataupun memainkan obyek tertentu. Kicauan beo ini bisa diibaratkan candaan seseorang untuk membuat orang lain tertawa.

Tak heran apabila peneliti dari Messerli Research Institute di Austria menyebut kea sebagai non mamalia pertama yang mampu menunjukkan "emosi menular" melalui vokalisasi.

Para peneliti melakukan eksperimen di Taman Nasional Arthur Pass dengan cara memainkan rekaman dari panggilan bermain selama 5 menit, jenis panggilan lain, serta panggilan dari burung robin yang menghuni area yang sama dengan Beo Kea.

Setelah rekaman panggilan diperdengarkan, beberapa burung secara spontan mulai bermain. Jumlah burung yang bermain makin bertambah seiring dengan lamanya waktu rekaman itu diperdengarkan.

"Kami bisa menunjukkan bahwa panggilan bermain itu benar-benar membuat kea menjadi 'hidup'," kata Raoul Schwing peneliti dari Messerli Research Institute di Austria seperti dikutip Daily Mail, Senin (20/3/2017).

"Faktanya beberapa burung-burung mulai bermain secara spontan, hampir sama dengan tawa pada manusia yang menular. Panggilan bermain ini memiliki efek emosional terhadap burung yang mendengarkannya, membuat mereka ingin bermain juga," tambahnya.

Uniknya, setelah mendengar panggilan bermain, burung tidak bergabung dalam permainan yang sudah berlangsung, tapi malah mulai bermain sendiri atau soliter.

Temuan ini menunjukkan bahwa panggilan seekor kea tertentu tidak bertujuan untuk mengajak bermain tetapi untuk merangsang semangat bermain atau berbahagia. Ini mendukung hipotesis bahwa vokalisasi bisa bertindak sebagai penular emosi yang positif.

Ke depan, peneliti berencana menyelidiki efek lebih lanjut untuk menentukan bagaimana permainan dan panggilan bermain bisa mempengaruhi kelompok sosial kea. Meski begitu peneliti juga harus berlomba dengan waktu mengingat spesies ini menurut International Union for Conservation of Nature berada di ambang kepunahan.

"Semoga adanya penelitian ini meningkatkan empati yang akhirnya bisa menghindari spesies ini dari kepunahan," harap Tamsin Orr-Walker, Pendiri Kea Conservation Trust. Riset dipublikasikan di jurnal Current Biology bulan ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.