Einstein, Zuckerberg, dan Misteri Mentalitas Generasi Medsos

Kompas.com - 21/03/2017, 11:02 WIB
Hasil survei Litbang Kompas terkait seberapa sering responden mengakses media sosial. Metode survei dilakukan dengan tatap muka yang diselenggarakan Litbang Kompas pada 14-22 Desember 2015. Sebanyak 1.414 responden warga Jakarta berusia minimal 13 tahun yang dipilih secara acak menggunakan pencuplikan sistematis. Tingkat kepercayaan 95 persen, dengan margin off error penelitian kurang lebih 2,6 persen. Harian KompasHasil survei Litbang Kompas terkait seberapa sering responden mengakses media sosial. Metode survei dilakukan dengan tatap muka yang diselenggarakan Litbang Kompas pada 14-22 Desember 2015. Sebanyak 1.414 responden warga Jakarta berusia minimal 13 tahun yang dipilih secara acak menggunakan pencuplikan sistematis. Tingkat kepercayaan 95 persen, dengan margin off error penelitian kurang lebih 2,6 persen.
|
EditorAmir Sodikin

Becanda atau tidak, frasa itu kurang lebih mewakili berbagai riset yang menengarai ada persoalan di balik perilaku banyak orang yang asyik-masyuk dengan media sosial.

Tentu, riset ini tak membahas pengguna media sosial yang masih sejalan dengan niat Zuckerberg membuat aplikasinya.


Igor Pantic, misalnya, dalam riset yang dipublikasikan Badan Kesehatan Amerika Serikat (NIH) pada Oktober 2014, merangkum sejumlah risiko dan gejala masalah kesehatan mental dengan penggunaan berlebihan media sosial.

Di antara gelagat masalah itu mencakup depresi, percaya diri yang rendah, hingga buruknya kualitas tidur pengguna aktif media sosial.

Riset terbaru dari University of Pittsburgh Schools of the Health Sciences—yang diumumkan pada 19 Desember 2016—bahkan sudah bisa memberi sinyal awal depresi pada pengguna media sosial. Indikator pertama yang dipakai adalah jumlah pemakaian platform media sosial.

Daripada memakai indikator waktu yang dihabiskan untuk berinteraksi di media sosial, riset ini mendapati jumlah penggunaan aktif platform jejaring sosial lebih kuat korelasinya dengan gejala depresi dan kegelisahan bahkan kecemasan berlebihan di kalangan anak muda.

“Kaitan (jumlah platform yang dipakai dengan gejala masalah mental) itu cukup kuat bagi para dokter mempertimbangkan pasiennya menderita depresi  dan kegelisahan, untuk lalu memberi mereka konseling,” ungkap Brian A Primack, ketua tim riset ini dalam publikasi tersebut.

Masih ada misteri

Lalu, kapan kita harus mewaspadai diri atau orang lain mulai punya gejala depresi atau kegelisahan terkait penggunaan media sosial?

IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

Riset berbasis survei atas 1.787 orang berusia 19-32 tahun yang aktif media sosial oleh tim Universitas Pittsburg tersebut mendapati, pengguna sekaligus 7-11 platform media sosial punya risiko 3,1 kali lebih besar menderita depresi dan kecemasan dibanding pemakai 0-2 media jejaring sosial pada satu waktu.

Risiko meningkat lagi menjadi 3,3 kali lebih besar untuk penggunaan lebih dari 11 platform media sosial. Temuan dari jumlah pemakaian platform itu tak banyak berubah, sekalipun sudah dibandingkan dan disesuaikan dengan data lama pemakaian media sosial dari setiap responden.

Riset ini menggunakan alat pengukur berupa kuosioner dan peranti penguji standar gejala depresi. Namun, Primack mengakui pula, masih banyak tersisa pertanyaan terkait hubungan antara penggunaan media sosial dan indikasi persoalan kesehatan mental

Menurut Primack, masih butuh lebih banyak riset untuk bisa menghasilkan kesimpulan lebih jelas soal kaitan antara media sosial dan masalah kesehatan mental.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X