Einstein, Zuckerberg, dan Misteri Mentalitas Generasi Medsos

Kompas.com - 21/03/2017, 11:02 WIB
Ilustrasi pengguna media sosial Thinkstok/Afiat SukmaragaIlustrasi pengguna media sosial
|
EditorAmir Sodikin


KOMPAS.com
– Gelagatnya, Mark Zuckerberg bakal ketularan Albert Einstein, bertanya-tanya kenapa hasil kerja mereka dipakai tak sesuai peruntukan.

Kalau Einstein "meratapi" rumus energinya dipakai untuk membuat bom yang meluluhlantakkan Hiroshima, Zuckerberg boleh jadi mulai bertanya-tanya soal pemanfaatan media sosial besutannya.

Sejak kehadirannya, media sosial telah menjadi kajian tersendiri di ranah psikologi dan sosiologi. Perkembangan dan penggunaan media sosial yang meledak selepas era booming dotcom pada 2000, menghadirkan beragam fenomena yang jauh melampaui ide Zuckerberg.

Google telah memudahkan orang mencari informasi dan berita, tetapi peranti itu tidak mencukupi untuk mengenal dan atau tahu tentang orang-orang di sekitar kita,” ujar Zuckerberg soal pemikiran awalnya membuat media sosial besutannya, seperti dikutip di Business Insider pada 29 Februari 2016.

Siapa mengira, kini media sosial bukan lagi dipakai untuk saling kenal dan tahu dengan orang-orang sekitar, tapi justru lebih banyak jadi wadah kenarsisan. Aksi pem-bully-an dan penipuan bukan pula satu dua kali terdengar dari keriuhan dunia kekinian ini.

Terkini, penggunaannya bahkan menyimpang sampai menjadi tragedi.

Ilustrasi ragam media sosialThinkstock/Cifotart Ilustrasi ragam media sosial

Setidaknya empat peristiwa beda benua, telah mengguncang dunia dalam tiga bulan pertama pada 2017. Tiga peristiwa terjadi di Amerika Serikat, sementara satu peristiwa lain terjadi di Jakarta, Indonesia. Sebelumnya, pada Oktober 2016, tragedi serupa juga terjadi di Turki.

Semua peristiwa itu menyalahgunakan fitur tayangan live di media sosial untuk merekam aksi bunuh diri, yang jelas hanya meninggalkan tragedi. Ironisnya, jejaring sosial milik para pelaku seolah tak berdaya menghentikan aksi itu.

Bahkan, ditengarai banyak orang yang malah menjadikannya tontonan atau sibuk menganggap tayangan itu sebagai rekaman palsu, di samping segelintir dari mereka yang mencoba menghentikan tindakan tersebut.

Pertanyaannya, ada apa dengan mentalitas para pengguna media sosial ini?

Medsos dan indikasi masalah mental

“Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat” adalah frasa yang pernah nge-hits untuk mengkritisi fenomena media sosial.

Setidaknya, itu ungkapan yang beken pas ngetren-ngetrennya media sosial besutan Zuckerberg, beberapa tahun lalu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X