Kompas.com - 20/03/2017, 20:19 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Kehamilan sesungguhnya adalah salah satu keajaiban. Proses di baliknya tak cuma mencakup seks yang menyenangkan, tetapi juga perjalanan dan kompetisi sperma yang penuh tantangan.

Bayangkan, sperma yang panjangnya hanya 0,065 mm harus berenang melalui cairan vagina yang asam dan mengalahkan kekuatan sel darah putih yang berpotensi membunuh.

Sperma harus lincah, berenang dengan cepat sekaligus tepat, menghindari jalan buntu sekaligus mengalahkan lebih dari 50 juta sperma lain.

Kemampuan sperma melalui berbagai rintangan itu membuat ilmuwan bertanya-tanya. Bagaimana caranya sel kecil itu bergerak cepat?

Sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Kyoto University, University of York, University of Birmingham, dan University of Oxford menjawab pertanyaan besar itu.

Mereka melakukan riset dengan perangkat ketelitian tinggi dan menggunakan sejumlah simulasi untuk mengolah data besar gerak sperma yang diamati.

Hasil penelitian mengungkap, sperma cukup taktis dalam bergerak. Sel itu melakukan gerak ke belakang, samping, dan depan untuk mencapai tujuan dengan cepat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bagian ekor sperma berperan menggerakkan kepala ke samping dan depan untuk menciptakan arus kecil. Gerak ini memperkecil gesekan, membantu bergerak ke depan lebih cepat, sekaligus mencegah terjebak di sudut tertentu.

"Anda mungkin berasumsi bahwa gerakan sperma ini menciptakan efek yang tak diduga pada cairan sekitarnya, membuatnya justru kesulitan menentukan arah," kata Hermes Gadelha dari the University of York.

Namun yang terjadi sebaliknya. Gerak sperma itu justru menghasilkan pola aliran khas yang mempermudahnya bergerak.

"Ini menunjukkan bahwa sperma memutar cairan sekitarnya secara teratur untuk membantu gerakan, tak jauh berbeda dengan medan magnet di sekitar magnet," imbuh Gahelda seperti dikutip Physorg, Senin (20/3/2017).

Pola yang diciptakan oleh gerakan sperma itu sekaligus berperan menyeleksi, memastikan hanya yang berkualitas yang bisa bergerak ke depan dengan cepat.

Peneliti mengungkapkan, setelah memecahkan gerak sperma ini, tantangan berikutnya adalah mengungkap pola gerak banyak sperma sekaligus.

Allan Pacey, pakar sperma dari University of Sheffield mengungkapkan, kesuksesan sperma tak semata-mata soal berenangnya saja.

"Semakin banyak kita tahu tentang sperma maka semakin baik. Ini mungkin akan membantu mengatasi masalah ketidaksuburan tapi ada banyak hal yang juga harus dipertimbangkan," ungkapnya seperti dikutip BBC hari ini.




Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Oh Begitu
Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X