Kompas.com - 14/03/2017, 16:45 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - WHO menyatakan, polusi bertanggung jawab atas seperempat dari kematian anak-anak di seluruh dunia.

Polusi berupa udara tercemar, air yang tidak aman, dan kurangnya sanitasi lingkungan tempat tinggal menyebabkan kematian sekitar 1,7 juta anak balita setiap tahun.

Polusi bertanggung jawab atas satu dari empat kematian pada semua anak balita, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Polusi air dan udara menjadi penyebab utama.

Laporan menemukan, lingkungan yang tercemar, baik air, udara, dan kebersihan menyebabkan kematian 1,7 juta anak setiap tahun, tetapi banyak dari kematian balita yang dapat dicegah dengan menyediakan bahan bakar memasak yang aman dan mencegah polusi udara dalam ruangan.

"Lingkungan yang tercemar adalah salah satu kondsi yang mematikan terutama untuk anak-anak balita," kata Dr Margaret Chan, director-general WHO. "Mereka mempengaruhi organ dan sistem kekebalan tubuh.”

Bahaya dari polusi udara sendiri dinilai Chan dapat mulai terjadi dari dalam rahim dan meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Setelah lahir, polusi udara meningkatkan risiko pneumonia, penyebab utama kematian balita, dan penyakit paru-paru seumur hidup seperti asma.

Hal ini juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke dan kanker di kemudian hari.

Ia melaporkan, pengaruh lingkungan yang tidak sehat telah menyebabkan 570.000 anak di bawah lima tahun meninggal setiap tahun dari infeksi pernapasan seperti pneumonia, sedangkan 361.000 lainnya mati karena diare, akibat air tercemar dan lingkungan yang kotor.

WHO juga memperkirakan bahwa 11-14% dari anak-anak berusia lima tahun dan lebih tua melaporkan gejala asma, dengan hampir setengah dari kasus-kasus ini berkaitan dengan polusi udara.

Dr Maria Neira, Direktur WHO untuk kesehatan lingkungan dan sosial mengatakan, penelitian pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa lebih dari 3 juta orang per tahun meninggal lebih dini karena polusi udara di luar ruangan. Jumlah ini lebih besar dari kasus malaria dan HIV / AIDS yang digabungkan.

Chan mengatakan kepada BBC pada hari Senin lalu bahwa polusi udara adalah "salah satu ancaman paling berbahaya" pada skala yang jauh lebih besar daripada HIV atau Ebola.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.