Kompas.com - 03/03/2017, 19:55 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com - Jangan anggap sepele masalah pendengaran. Gangguan pendengaran bisa berupa gangguan ringan, yakni menurunnya fungsi pendengaran, tetapi masih bisa berkomunikasi dengan baik.

Bisa juga gangguan sangat berat atau mengalami tuli total, yakni tidak bisa mendengar sama sekali meskipun ada yang berteriak.

Ketua Komite Nasional Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) dr Damayanti Soetjipto, SpTHT-KL(K) mengatakan, gangguan pendengaran sering luput dari perhatian karena tidak terlihat secara fisik.

Meski demikian, gangguan pendengaran tak bisa dianggap sepele karena bisa menurunkan kualitas hidup. Untuk itu, bertepatan dengan Hari Pendengaran Sedunia pada 3 Maret mari kenali beberapa penyebab gangguan pendengaran.

1. Tuli sejak lahir
Tuli sejak lahir atau kongenital di Indonesia diperkirakan terjadi pada 6500 anak setiap tahunnya. Tuli sejak bayi bisa mengganggu kemampuan bicara anak dan bisa berpengaruh pada pendidikannya.

Maka anak baru lahir seharusnya diperiksa dengan alat OAE (Oto-Aacoustic Emission). Bila ada indikasi masalah pendengaran, usia 3 bulan kembali menjalani pemeriksaan secara lengkap.

"Kalau bayi tidak bisa mendengar, sebelum usia 6 bulan dipasang alat bantu dengan supaya kemampuan bicaranya nanti juga bagua, " kata Damayanti.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

2. Infeksi telinga tengah
Infeksi telinga tengah juga dapat terjadi pada anak-anak. Umumnya masalah ini ditandai dengan batuk, pilek, atau radang tenggorokan.

Bila tidak segera diatasi, infeksi bisa menjalar ke telinga tengah melalui saluran yang menghubungan hidung dan telinga. Pada tahap lanjut bisa menyebabkan pecahnya gendang telinga.

"Jadi saat anak sering batuk, pilek, periksa juga kesehatan telinganya," kata Damayanti.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Skizoafektif
Skizoafektif
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.