Kompas.com - 01/03/2017, 21:44 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Banyak orang menangkap masalah di sekitarnya dan memunculkan sebuah gagasan. Namun, hanya sedikit yang mewujudkan gagasannya menjadi nyata sekaligus menjadikannya sebagai sebuah bisnis yang menghasilkan.

Salah satu diantara seikit orang itu adalah Kevin Kumala. Dia bisa dibilang seorang social enterpreneur, orang yang membuat bisnis bukan semata-mata untuk meraih keuntungan tetapi juga untuk menyelesaikan masalah.

Kompas.com bertemu dengan Kevin pada Sabtu (25/2/2017) dan berbincang soal bisnisnya. Ia menguraikan usahanya membangun Avani Eco, perusahaan start-up berbasis sains. Berikut wawancaranya...

Bagaimana awalnya terpikir membuat bioplastik dan mendirikan Avani Eco?

Jadi kalau boleh cerita sedikit, saya ini orang yang lahir di Indonesia tetapi banyak menghabiskan waktu di luar negeri. Waktu saya meninggalkan Indonesia pada 1997, Bali itu masih surga. Saya ingat saya masih suka surfing dan diving di sana. Tahun 2009 waktu saya kembali ke Indonesia, Bali sudah berubah drastis secara negatif. Saya surfing, tapi merasa seperti surfing di atas ombak plastik. Saya enggak melihat biodiversitas yang kaya tetapi plastik.

Kebetulan background saya biologi, kedokteran juga. Akhirnya dari frustasi melihat Bali itu, muncul sebuah ide untuk membuat bioplastik. Tujuannya untuk memggantikan plastik yang selama ini terbuat dari polystyrene. Misi utama saya adalah menggantikan disposable plastic. Jadi kalau plastik yang dipakai berkali-kali seperti botol minum itu relatif tidak masalah. Disposable plastic ini yang bahaya. Dipakainya hanya sekitar 30 menit tetapi dampaknya ribuan tahun.

Banyak orang melihat masalah tetapi akhirnya hanya berhenti pada gagasan menyelesaikannya. Bagaimana dulu akhirnya bisa yakin dan mewujudkan gagasan?

Memang harus punya niat kuat. Bisa dibilang selama tiga tahun awal membuat perusahaan ini, mulai 2013, itu saya melangkah dengan iman. Sebagai seorang wiraswasta, saya waktu itu hanya punya keyakinan, baik secara spiritual maupun dalam usaha. Selama tiga tahun itu saya cemplungkan dana cukup banyak. Saya merasa, ide ini harus jadi. Bukan hanya sebuah plan tetapi harus tereksekusi dan bisa di-monetizing.

Saya punya keyakinan, sebuah perusahaan akan sukses kalau bisa berikan solusi dari suatu masalah. Jadi dari awal tidak selalu berpikir soal berapa keuntungan yang didapat, walaupun itu perlu. Saya dari awal percaya yang saya kembangkan bisa jadi solusi untuk dunia.

Investasinya berapa? Ada investorkah?

Pribadi. Bisa dibilang selama tiga tahun awal itu saya menjadi antisosial. Saya selalu di lab. Jumlah investasinya saya enggak bisa disclose jumlahnya tapi yang jelas sangat besar untuk research and development-nya. Tapi akhirnya saya berhasil menggandeng beberapa pihak. Istilahnya, saya pinjam modal dari mereka, dapat kepercayaan bahwa apa yang saya kembangkan akan menjadi obat bagi planet kita.

Beberapa pihak itu siapa?

Teman, family, mentor. Sebelumnya saya juga merintis usaha farming dan mikoralga. Kalau tahu mungkin mikroalga-nya spirulina, super food. Mentor saya itu adalah sumber dana awal dari sewaktu saya melakukan riset dari tahun 2013.

Apa yang dilakukan di lab?

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.