Kompas.com - 01/03/2017, 16:45 WIB
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Bayi dikategorikan prematur jika dilahirkan sebelum usia kehamilan 37 minggu. Salah satu penyebab kematian bayi terbanyak adalah karena bayi lahir prematur.

Pasalnya, perkembangan bayi yang belum sempurna saat lahir, membuat bayi prematur rentan mengalami berbagai masalah kesehatan.

Dalam kondisi ini ASI sangat dibutuhkan bayi prematur untuk mencegah kematian. Meski bayi prematur belum memiliki kemampuan untuk menghisap payudara dan tidak memungkinkan dilakukan Inisiasi Menyusui Dini, ASI bisa diberikan dengan meneteskannya di mulut bayi.

“Enggak perlu dipuasakan, begitu kolostrum ibu sudah bisa keluar, segera berikan pada bayi prematur. Cukup beri setetes - setetes,” jelas dokter spesialis anak konsultan bayi prematur, Dr dr Rinawati Rohsiswanto, SpA (K) saat ditemui di Bunga Rampai, Jakarta.

Dokter Rina menambahkan, pemberian ASI bertujuan agar kelenjar-kelenjar daya tahan tubuh berfungsi melindungi usus yang masih rentan infeksi.

“Bayi yang lahir di bawah 30 minggu biasanya diberi minum melalui selang. Tapi, berapapun usia prematurnya harus segera diberi ASI. Dengan catatan kondisinya sudah stabil, napasnya baik, kondisi baik, baru diberi ASI,” jelasnya.

Kolostrum, cairan bening yang dikeluarkan kelenjar susu ibu setelah melahirkan memang kaya kandungan nutrisi dan zat-zat yang baik untuk faktor imun serta pertumbuhan, terutama bagi bayi prematur.

“Saya pernah menangani bayi prematur yang air susu ibunya belum keluar. Lalu, saya sarankan cari donor ASI dan dapat. Perkembangan bayinya baik. Tapi, beberapa hari kemudian, donor ASI berhenti dan diputuskan minum susu formula. Dua hari kemudian perut bayi kembung, kondisi memburuk dan akhirnya meninggal dunia,” cerita dokter Rina.

Dokter Rina menegaskan, susu formula adalah pilihan terakhir untuk diberikan pada bayi. Jika bayi prenatur tak bisa mendapatkan ASI ataupun ASI donor, barulah susu formula bisa dipertimbangkan.

Senada dengan dokter Rina, Dr dr Naomi Dewanto SpA (K) juga mengungkapkan, bahwa kolostrum dapat merangsang pertumbuhan bakteri baik dan mencegah bakteri patogen, sehingga bisa mengurangi risiko infeksi.

“Pada bayi prematur, pemberian ASI bisa melalui oral therapy, di mana ASI diberikan pada kelenjar limfe mulut dan akan menghasilkan zat-zat antibodi untuk mencegah infeksi,” jelasnya.

Meski sedikit, kandungan gizi kolostrum sangat tinggi. Kolostrum juga mengandung tinggi protein dan rendah lemak.

Bayi yang tidak mendapatkan kolostrum akan lebih mudah terkena infeksi, terutama bayi yang lahir prematur, karena daya tahan tubuhnya sangat rentan. Infeksi inilah yang bisa meningkatkan risiko kematian pada bayi prematur.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.