Bahaya Zat Kimia dari Botol Plastik untuk Ibu Hamil

Kompas.com - 08/02/2017, 13:40 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com -  Bahaya dari penggunaan kemasan plastik adalah adanya zat kimiawi bernama bisphenol A (BPA). Zat tersebut diketahui dapat mengganggu hormon pada anak laki-laki. Pada ibu hamil, kebiasaan minum dari botol plastik yang mengandung BPA diketahui dapat meningkatkan risiko anak obesitas.

Ketika anak tersebut terpapar BPA, mereka menjadi kurang sensitif terhadap hormon yang bertanggung jawab mengontrol nafsu makan. Para ahli mengaku mereka tak terkejut akan hasil penelitian ini dan memperingatkan pentingnya menyadari faktor-faktor lingkungan yang berperan meningkatkan kerentanan akan obesitas.

BPA adalah zat kimia yang ditemukan dalam kotak makanan, termasuk botol air minum plastik polikarbonat dan lapisan kaleng. Kimiawi ini dapat mengganggu sistem endokrin (kelompok kelenjar yang menghasilkan beberapa hormon) dengan meniru estrogen, satu dari hormon utama dalam tubuh wanita.

Riset menemukan paparan BPA hampir mengenai semua orang. Lebih dari 90 persen orang yang diuji pada studi populasi memiliki kadar BPA di urine.

Studi tersebut dilaksanakan oleh Endocrine Society yang bermarkas di Washington DC dan meneliti bayi tikus. Peneliti menemukan bahwa tikus yang dilahirkan ibu terpapar BPA menjadi kurang responsis terhadap hormon leptin yang kadang disebut hormon kenyang itu.

Leptin membantu menghambat nafsu makan dengan mengurangi rasa lapar ketika tubuh tidak membutuhkan energi. Hormon itu mengirim sinyal ke daerah hipotalamus di otak untuk menekan nafsu makan.

"Paparan sebelum lahir dalam kadar rendah menunda lonjakan leptin setelah kelahiran yang membuat tikus berkembang dengan respon yang benar terhadap hormon tersebut. Tapi, paparan BPA secara permanen mengubah neurobiologi di tikus yang terkena sehingga membuat mereka rentan mengalami obesitas ketika dewasa," kata peneliti senior Dr.Alfonso Abizaid.

Untuk menguji bagaimana BPA dapat mempercepat terjadinya obesitas, periset memberi makan tikus hamil BPA dalam makanannya. Kadar BPA tersebut lebih rendah dari kadar yang dianggap aman oleh Food and Drug Administration (FDA).

Setelah tikus melahirkan, periset memberi anak mereka injeksi leptin dengan interval beragam dan kemudian menguji jaringan otak mereka dan menganalisa darah untuk mengukur respon terhadap hormon tersebut.

Tikus hamil lainnya terpapar kimiawi lain atau terpapar kimiawi estrogen yang disebut diethylstilbestrol (DES). Anak-anak mereka itu dibandingkan dengan anak tikus yang terpapar BPA.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Sumber Daily Mail
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X