Kompas.com - 30/01/2017, 15:36 WIB
Tim Serbu Api Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah berusaha memadamkan kebakaran lahan di Jalan Danau Perupuk III, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (10/10). Lahan seluas 2 hektar itu diduga sengaja dibakar untuk dibersihkan karena tampak rumput ilalang yang telah ditebas. Status siaga kebakaran hutan dan lahan Provinsi Kalteng sudah berakhir pada 8 Oktober, tetapi kebakaran masih terjadi. KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONOTim Serbu Api Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah berusaha memadamkan kebakaran lahan di Jalan Danau Perupuk III, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (10/10). Lahan seluas 2 hektar itu diduga sengaja dibakar untuk dibersihkan karena tampak rumput ilalang yang telah ditebas. Status siaga kebakaran hutan dan lahan Provinsi Kalteng sudah berakhir pada 8 Oktober, tetapi kebakaran masih terjadi.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan yang telah menjadi bencana tahunan mulai diantisipasi oleh sejumlah daerah.

Riau berada dalam status Siaga Darurat pada 24 Januari hingga 30 April 2017. Sejauh ini, Riau menjadi provinsi pertama yang menetapkan status Siaga Darurat.

"Riau punya dua musim kemarau," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta, Minggu (29/1/2017).

Kemarau pertama pada Februari-Maret, lalu Juli-Oktober.

Sebelum status siaga provinsi, dua kabupaten di Riau, Kabupaten Rokan Hulu dan Dumai, menetapkan status serupa. "Kami bertekad tidak ada bencana asap pada 2017," ujar Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman kepada Harian Kompas, Senin (30/1/2017).

Tim Satgas Bencana Riau dipimpin Komandan Korem 031/Wirabima Brigadir Jenderal Nurendi.

Tim melakukan rapat setiap pagi di Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin Pekanbaru. Dalam rapat, Kepala Kantor Klimatologi Pekanbaru Sugarin memaparkan kondisi lahan dan hutan berdasar pantauan satelit Aqua Terra terbaru.

Dari laporan itu, satgas udara pimpinan Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Marsekal Pertama Henri Alfiandi akan mengirim pesawat pemantau guna mengecek kepastian titik panas di lapangan.

Tim lantas akan mengirim helikopter pengebom air jika terkonfirmasi ada lahan terbakar.

Tindakan bisa diambil bukan hanya dari laporan klimatologi, tetapi juga laporan dari sub-satgas (kabupaten-kota) melalui grup Whatsapp beranggotakan hampir 200 orang. Sub-satgas akan meminta bantuan bom air apabila tim darat tak mampu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengertian Sabana serta Contoh Flora dan Faunanya

Pengertian Sabana serta Contoh Flora dan Faunanya

Oh Begitu
Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Fenomena
Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Fenomena
Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Fenomena
Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Kita
Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Prof Cilik
Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.