Kompas.com - 29/01/2017, 10:42 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com - Penggunaan gawai atau gadget pada anak tak selalu berdampak negatif. Ada manfaat positifnya asalkan orangtua bisa menggunakannya dengan tepat dan mengawasi anak dengan baik.

"Teknologi itu seperti dua mata pisau. Sebagai orangtua harus mengenali kelebihan, kelemahan atau positif dan negatifnya gadget. Jadi tergantung bagaimana kita orangtua mengarahkannya," ujar Psikolog anak dari Tiga Generasi, Annelia Sari Sani, M.Psi dalam jumpa pers HiLo Drawing Competition 2017 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Anne mengatakan, orangtua juga harus bisa mengoperasikan gawai yang digunakan anak. Istilahnya, jangan jadi gagap teknologi.

Ketika anak bermain game, orangtua harus tahu game apa yang sedang dimainkan anak. Dari situ, bisa dilihat apakah game tersebut positif dan sesuai dengan usia anak.

Kemudian, terapkan disiplin agar anak tidak kecanduan gawai. Anne mengungkapkan, penggunaan gawai sebaiknya tidak diberikan pada anak di bawah 2 tahun agar tidak mengganggu tumbuh kembang si kecil.

Ketika sudah berusia di atas 2 tahun, pemakaian gawai pun harus dibatasi. Anjurannya, yaitu tak lebih dari dua jam per hari.

Selain disiplin waktu, orangtua  perlu menerapkan disiplin untuk tidak memainkan gawai di meja makan dan di dalam kamar.

"Tapi jika melarang tidak membawa gadget ke meja makan mislanya, ya orangtua juga harus begitu. Kita harus beri contoh penggunaan gadget yang positif," jelas Anne.

Dampingi anak saat menggunakan gawai sambil saling berkomunikasi agar interaksi orangtua dan anak tetap intens.

Orangtua pun bisa mengontrol mesin pencarian di internet agar anak tidak bisa mengakses konten negatif atau yang tidak sesuai dengan usianya. Selain itu, jika anak sudah aktif di media sosial, ajari pula etika bermedia sosial.

Apabila dipergunakan dengan bijak dan positif, gawai bisa memberikan manfaat pada anak. Menurut Anne, gawai bisa membuat anak lebih cepat memilah informasi.

Dengan bermain game yang sehat, anak mampu belajar mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Gawai juga bisa membantu orangtua memberikan stimulasi kepada anak. Misalnya, untuk melatih motorik anak, pilih aplikasi atau tampilkan video di gawai yang mencontohkan aktivitas fisik. Lalu minta anak mengikuti aktivitas fisik tersebut, seperti menari hingga berolahraga. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Cacingan
Cacingan
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Kita
Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Oh Begitu
Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Oh Begitu
Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Oh Begitu
Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Fenomena
Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Oh Begitu
Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Oh Begitu
Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Oh Begitu
Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Fenomena
Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Oh Begitu
NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

Fenomena
Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.