Kompas.com - 26/01/2017, 18:11 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani

“(Harga versi ini) kira-kira bisa lebih murah 50 persen dibandingkan bila menggunakan bahan asli susu dan lemon, dengan hasil yang tetap dapat dimakan, tidak berbahaya, dan dapat terurai," papar Felicia.

Darurat sampah plastik

Terobosan seperti yang dilakukan kedelapan mahasiswa i3L di atas bisa jadi merupakan salah satu solusi untuk ancaman sampah plastik bagi lingkungan hidup. Terlebih lagi, Indonesia juga dinilai sudah punya masalah serius terkait sampah plastik.

Hasil riset Jenna R Jambeck dan kawan-kawan pada 2015, misalnya, mendapati Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke laut yang terbanyak kedua di dunia, setelah China. Rata-rata, 0,48 ton sampai 1,29 ton sampah plastik masuk ke perairan Indonesia.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bahkan pernah pula menyatakan, penggunaan kantong plastik di Indonesia mencapai 9,5 miliar kantong per tahun.

"(Padahal) plastik sangat berbahaya karena tidak bisa terurai ketika berada di alam dan diperkirakan baru bisa terurai dalam waktu 400 tahun," papar Nurbaya seperti dimuat Kompas.com, Minggu (31/7/2016).

Saat ini memang sudah ada produk plastik yang diklaim ramah lingkungan alias berlogo biodegradable. Namun, laporan PBB mendapati bahan itu tak seramah lingkungan seperti yang diharapkan.

Dipublikasikan untuk konvensi Badan Lingkungan Hidup PBB (UNEA) di Nairobi, Kenya, pada Senin (23/05/2016), laporan itu menengarai produk plastik biodegradable gagal terurai cepat di laut. 

Merujuk laporan tersebut, plastik berlogo biodegradable butuh suhu minimal 50 derajat Celcius, terpapar langsung radiasi ultraviolet sinar matahari, dan ada udara, untuk dapat cepat terurai. Prasyarat itu jauh panggang dari api dengan kondisi bawah laut yang cenderung gelap, dingin, dan minim oksigen.

Beragam kalangan pun belakangan makin lantang menyuarakan penggunaan kantong atau tas berulang kali pakai untuk belanja, sebagai upaya menekan penggunaan kantong plastik yang dianggap murah dan praktis.

Terobosan semacam pembuatan Plasmik ini, apalagi dimulai dari kampus, bisa jadi merupakan ikhtiar solutif bagi persoalan sampah plastik yang sejatinya merupakan ancaman bagi seluruh penghuni Bumi. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

[POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

Oh Begitu
Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

Kita
Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

Oh Begitu
Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

Kita
Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

Kita
Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

Oh Begitu
Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

Oh Begitu
Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

Fenomena
Puncak Hujan Meteor Perseid Terjadi 13 Agustus, Catat Waktu untuk Menyaksikannya

Puncak Hujan Meteor Perseid Terjadi 13 Agustus, Catat Waktu untuk Menyaksikannya

Fenomena
Gunung Ibu Alami Erupsi, Ini Rekomendasinya

Gunung Ibu Alami Erupsi, Ini Rekomendasinya

Oh Begitu
China Deteksi Virus Zoonosis Langya pada 35 Orang, Apa Gejalanya?

China Deteksi Virus Zoonosis Langya pada 35 Orang, Apa Gejalanya?

Oh Begitu
Laba-laba Ternyata Juga Tidur, Studi Ini Buktikan

Laba-laba Ternyata Juga Tidur, Studi Ini Buktikan

Oh Begitu
Kenapa Kulit Badak Tebal?

Kenapa Kulit Badak Tebal?

Oh Begitu
Siklon Tropis Mulan Berpotensi Picu Gelombang Tinggi Hari Ini

Siklon Tropis Mulan Berpotensi Picu Gelombang Tinggi Hari Ini

Oh Begitu
Studi Ungkap Tarsius, Primata Terkecil di Dunia Mampu Bernyanyi dengan Nada Tinggi

Studi Ungkap Tarsius, Primata Terkecil di Dunia Mampu Bernyanyi dengan Nada Tinggi

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.