Kompas.com - 26/01/2017, 18:11 WIB
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya saat ditemui usai rapat koordinasi khusus tingkat menteri terkait Karhutla di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Kamis (19/1/2017). Kristian ErdiantoMenteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya saat ditemui usai rapat koordinasi khusus tingkat menteri terkait Karhutla di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Kamis (19/1/2017).
|
EditorPalupi Annisa Auliani

“(Harga versi ini) kira-kira bisa lebih murah 50 persen dibandingkan bila menggunakan bahan asli susu dan lemon, dengan hasil yang tetap dapat dimakan, tidak berbahaya, dan dapat terurai," papar Felicia.

Darurat sampah plastik

Terobosan seperti yang dilakukan kedelapan mahasiswa i3L di atas bisa jadi merupakan salah satu solusi untuk ancaman sampah plastik bagi lingkungan hidup. Terlebih lagi, Indonesia juga dinilai sudah punya masalah serius terkait sampah plastik.

Hasil riset Jenna R Jambeck dan kawan-kawan pada 2015, misalnya, mendapati Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke laut yang terbanyak kedua di dunia, setelah China. Rata-rata, 0,48 ton sampai 1,29 ton sampah plastik masuk ke perairan Indonesia.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bahkan pernah pula menyatakan, penggunaan kantong plastik di Indonesia mencapai 9,5 miliar kantong per tahun.

"(Padahal) plastik sangat berbahaya karena tidak bisa terurai ketika berada di alam dan diperkirakan baru bisa terurai dalam waktu 400 tahun," papar Nurbaya seperti dimuat Kompas.com, Minggu (31/7/2016).

Saat ini memang sudah ada produk plastik yang diklaim ramah lingkungan alias berlogo biodegradable. Namun, laporan PBB mendapati bahan itu tak seramah lingkungan seperti yang diharapkan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dipublikasikan untuk konvensi Badan Lingkungan Hidup PBB (UNEA) di Nairobi, Kenya, pada Senin (23/05/2016), laporan itu menengarai produk plastik biodegradable gagal terurai cepat di laut. 

Merujuk laporan tersebut, plastik berlogo biodegradable butuh suhu minimal 50 derajat Celcius, terpapar langsung radiasi ultraviolet sinar matahari, dan ada udara, untuk dapat cepat terurai. Prasyarat itu jauh panggang dari api dengan kondisi bawah laut yang cenderung gelap, dingin, dan minim oksigen.

Beragam kalangan pun belakangan makin lantang menyuarakan penggunaan kantong atau tas berulang kali pakai untuk belanja, sebagai upaya menekan penggunaan kantong plastik yang dianggap murah dan praktis.

Terobosan semacam pembuatan Plasmik ini, apalagi dimulai dari kampus, bisa jadi merupakan ikhtiar solutif bagi persoalan sampah plastik yang sejatinya merupakan ancaman bagi seluruh penghuni Bumi. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.